skip to main |
skip to sidebar
Bedanya mengajar di playgroup dan di SD adalah di SD boleh memberi tugas. Hehehe. Saya senang memberi tugas-tugas open ended. Saya senang melihat hasil kerja anak-anak yang beraneka ragam dan seringkali mengejutkan.Tugas open ended juga memaksa anak-anak bertanya; baik bertanya pada orang lain yang lebih tahu maupun bertanya pada buku.Lagipula tugas open ended tidak merepotkan buat saya, tapi merepotkan mereka. Membiasakan anak-anak mengenal buku referensi, menggunakan kamus, dan menggunakan atribut-atribut lain pada buku mau tidak mau jadi bagian proses belajar, kalau sebagai guru saya maunya memberi tugas open ended. Tentang keinginan mereka untuk mulai bertanya pada buku, itu soal lain lagi.Hari ini kegiatan kami tidak open ended, karena saya menyiapkan permainan dan lembar kerja. Ternyata saya tetap mendapatkan hasil tidak terduga.Saya mengajak mereka bermain lomba mengelompokkan gambar hewan. Mereka harus mengelompokkan gambar-gambar itu dalam kriteria tertentu. Saya mulai dengan kriteria kasat mata seperti hewan yang hidup di darat atau hidup di air, bertelur atau tidak bertelur. Dalam tiga kali percobaan anak-anak sudah melesat pada pengelompokkan hewan vertebrata. Saya ketinggalan. Saya baru bicara tentang hewan kaki dua dan hewan kaki empat, ada saja anak yang menerangkan pada temannya bahwa laba-laba itu bukan serangga karena kakinya delapan sedangkan semua serangga kakinya enam.Topik ini sungguh menarik sampai-sampai ketika kami melanjutkan ke sesi lembar kerja, anak-anak fall into silence. Semua langsung serius. Mereka sedang menulis persamaan dan perbedaan gambar sekelompok hewan. Tiba-tiba Adinda dan Dhiadri menghampiri saya."Boleh ke perpustakaan, tidak, Bu? Aku butuh buku untuk menjawab soalnya."Saya berpikir sejenak. Saya tidak merencanakan pelajaran sampai sejauh ini sih, tapi mengapa tidak? Walaupun sebenarnya soal yang saya berikan tidak perlu informasi sejauh itu. Saya hanya meminta mereka mengamati gambar. Dua anak itu lari ke perpustakaan dan kembali lima menit kemudian dengan setumpuk buku tentang hewan. Mereka letakkan di karpet dan mempersilakan teman yang lain untuk ikut melihat. Limabelas menit kemudian kertas-kertas tugas itu sudah berpindahtangan ke saya.Ini jawaban mereka.
"Hewan-hewan ini termasuk mamalia. Mereka sama-sama menyusui, mempunyai rambut, mempunyai kerangka dan berdarah panas. "
"Hewan-hewan ini termasuk reptil. Kulitnya bersisik dan agak kasar. Reptil itu bertelur dan berdarah dingin."
Riset yang bagus.
Nama saya muncul di sebuah majalah edisi September.Itu ulah teman saya yang merasa perlu "mendongkrak popularitas" saya. Jujur dan agak malu saya harus mengakui bahwa saya agak termakan kilahnya itu, sampai -sampai saya sengaja memakai baju kesayangan saya di hari pemotretan. Tiga hari lalu saya berusaha keras mencari majalah edisi September keliling kelurahan hanya untuk dikecewakan agen koran dan majalah. Ketika akhirnya saya berhasil mendapatkan majalah itu, antusiasme saya sudah tinggal sepertiga. Saya sedikit merasa apa yang saya katakan tidak ditulis dan apa yang ditulis tidak saya katakan. Ibu saya justru sangat antusias. Dipamerkannya artikel sepotong itu pada sepupu-sepupu saya yang cukup lama bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional mapan. Selama ini mereka memang tidak pernah menggubris apa yang saya lakukan. Selain mengejar-ngejar saya untuk segera kawin, tidak sekalipun mereka pernah bertanya tentang apa yang saya lakukan sekarang. Selama ini saya pun tidak merasa perlu repot bercerita pada mereka. Saya cukup tahu apa yang mereka anggap penting dan apa yang tidak. Saya bukan dokter, tidak bekerja di perusahaan besar, dan tidak sekolah di luar negeri. Jadi tidak ada yang ingin mereka dengar. Ibu saya juga bertekad untuk menggunting dan memamerkan artikel itu di sekolah yang dibawahi yayasan tempatnya bekerja. Saya (yang ternyata tidak siap dengan popularitas terdongkrak) segera mempertanyakan dua aksinya itu; untuk apa?Ibu saya bilang, ia ingin mengatakan pada sepupu-sepupu saya itu betapa miripnya saya dengan kakek saya. Ia ingin bilang keras-keras di depan muka mereka bahwa, bahagia tidak identik dengan banyak duit (huhuhu... dengan kata lain saya masih termasuk kaum dhuafa). Ia juga ingin bilang pada guru-guru di sekolahnya bahwa penghargaan datang dari determinasi, bukan dari job title. Saya cuma bisa nyengir. Saya bisa memahami antusiasmenya. Saya menghargai dan terharu pada rasa bangganya akan saya. Sayang sekali saat ini saya tidak merasa antusias apalagi bangga. Artikel itu sedang menampar betapa 'middle class'-nya saya. Saya tidak bangga akan itu.