Saturday, April 21, 2007

Workaholic

Susah sekali rasanya untuk duduk sebentar saja di tengah hari. Padahal sepertinya tidak ada yang saya kerjakan. Anak-anak? Ya mereka banyak pekerjaan.

Saya bersyukur, Carlo's Mum mau membantu kami membuat buku tahunan. Di pertemuan pertama, anak-anak belajar fotografi bersama Carlo's Mum. Setelah sedikit pengantar, anak-anak mulai bertebaran di sekitar sekolah untuk mencoba melakukan candid photos. Selagi mereka asyik foto-foto, bergantian mereka saya giring menemui Carlo's Mum untuk umpan balik. Saya dan fotografi? Yah, jadi objeknya saja nggak becus.

Saya sempat meragukan minat anak-anak sebab mereka nyaris tanpa ekspresi kalau diajak bicara. Bahkan saat briefing, ada yang mendadak berdiri, melompat ke arah pohon dan bilang pada teman-temannya, "Lihat, ada bunglon!"

Bunglon?

Ternyata saya salah. Beberapa hari berikutnya anak-anak mengerjakan "pe-er" memotret mereka di waktu-waktu luang dengan penuh semangat. Saya jadi sering melihat anak yang mengendap-endap membawa kamera. Mereka berusaha sekali membuat foto-foto candid. Apa yang terjadi? Para korban foto (terutama anak kelas 1 dan 2 yang bukan panitia buku tahunan) makin sadar kalau mereka sedang di foto, jadi banyak yang berpose.

Kadang-kadang saya menemukan empat kamera di meja saya (lho ini punya siapa saja?), atau justru kamera saya lenyap entah ke ruang mana. Ketertarikan mereka membuahkan "pe-er" untuk Carlo's Mum yang baik hati. 500 foto untuk disortir. Hehehehehe...


Di saat yang sama sebenarnya sebagian anak-anak sedang sibuk berlatih untuk konser. Lagunya, We're All In This Together. Mereka adalah kelompok fanatik penggemar High School Musical. Mereka menonton filmnya sejuta kali dan memutar CDnya di mobil selama berbulan-bulan. Anak-anak kelas 4 sudah pernah tampil memukau di pementasan sekolah. Anak-anak kelas yang lebih rendah meniru penampilan kelas 4 selama berminggu-minggu. Beberapa dari mereka berkesempatan pentas bersama kelas 4 dalam konser minggu depan. Tebak apa yang terjadi? Anak kelas 1 dan 2 latihan ekstra keras untuk bisa sama hebat dengan kakak-kakaknya. Mereka berlatih dua kali sehari selama dua minggu penuh. Padahal lagu ini high impact. Selesai menyanyi satu lagu, keringat pasti bercucuran. Begitu keras dan sering mereka latihan, sampai anak-anak yang tidak ikut konser berkomentar, "Nanti selesai konser, please jangan nyanyi lagu itu lagi. Aku sudah bosan mendengarnya. "

Anak-anak kelas 4 tidak keberatan. Mereka mengajari adik-adiknya sama seriusnya dengan guru balet. "Kakimu begini dulu baru berputar. Ya. Angkat tangannya segini. Hold."

Minggu depan konser sudah lewat, tapi kegiatan baru sudah menunggu. Koran Anak sudah menunggu liputan khusus anak-anak sekolah kami. Kemarin saya mengumpulkan tujuh penulis cilik dan mendiskusikan rencana kami. Anak-anak kelas 2 yang terpilih sudah hampir pingsan saking senangnya.

Kita akan menulis tentang Matahari. Ini pilihan topiknya. Siapa yang mau menulis tentang matahari sebagai sumber energi?

Mita, Lika, dan Mini berpandang-pandangan melempar kesempatan.
Dhimas sibuk sendiri.
Medina dan Sargie, anggota tim junior angkat tangan, "Aku saja deh bu!"

Siapa yang mau menulis tentang fakta seputar matahari?
Sargie lagi, "Aku mau, Bu!"

Siapa yang mau menulis tentang bahaya sinar matahari?
Sargie dan Medina, "AAAh! Itu kita sudah belajar. Aku saja Bu!"

Saya memberi tahu, "Biasanya yang dipilih untuk menulis adalah kelas 5 dan 6, tapi kali ini kalian yang menulis. Tulisan kalian bagus, jadi tunjukkan. Semangat dong. "

Dhimas memotong, "Really?"
Riri bilang, "Aku dikasih tema yang gampang saja ya bu."
Saya, "He? Enak saja. Yang gampang untuk kelas 2."
Riri, "Yaaaah... Ibuuu...."

Lika, Mini dan Mita masih memegang kamera (ingat, mereka masih sibuk foto-foto) dan mulai bingung bagaimana harus menulis tema mereka.
"Kita nggak ada yang suka sejarah bu. Yang suka itu Saras."
"Eh, Lika, tapi kan kamu sudah tahu soal Amaterasu."
"Oh iya, ya udah aku tulis soal itu saja."
Dhimas yang akhirnya memilih topik tentang mobil tenaga surya menambahkan, "Hei, ada lho yang namanya The Sun Temple"


Ok, Redaksi akan datang hari Selasa. Hari Senin tulisanmu tolong tunjukkan pada Bu Tia. Kita periksa dulu bersama-sama.

Mata mereka mulai berkilat-kilat.

Saya ikut bersemangat.

Saya lupa bahwa pada hari Sabtu dan Minggu ada gladi resik dan konser sungguhan.
Saya juga lupa kalau hari Selasa, sebagian anggota tim penulis mau presentasi untuk mencari sponsor, sementara Carlo's Mum juga menunggu foto mereka dan mau mengajari anak-anak membuat lay out.


Oh, No!


Friday, April 20, 2007

Kadang-kadang Terjadi

Kemarin, saat olahraga terjadi kecelakaan beruntun. Anak-anak yang sedang main basket tahu-tahu ada yang jatuh tertelungkup menghantam tiang besi. Ternyata Sargie. Untungnya tidak apa-apa meski dia agak shock, khawatir giginya copot.

Saat ganti baju, dia masih terisak-isak. Maira berkomentar, "Kasihan deh Sargie, berapa hari ini sial melulu. Kemarin gara-gara "itu", sekarang kejedug tiang."

Teman yang lain merangkul Sargie dan menepuk bahunya. "Kadang-kadang memang ada hari-hari jelek seperti itu. Tenang saja, sebentar lagi lewat kok."
Lantas dia pergi.

Thursday, April 19, 2007

Marah

Saya marah besar hari ini.

Salah satu anak di kelas saya melemparkan buku matematikanya pada Ibu Matematika.
"Coba kamu ulangi lagi, bagaimana seharusnya meletakkan buku itu."

Sampai tiga kali dia tetap melempar bukunya dengan wajah cemberut, sekaligus dengan membanting kursi dan membentak guru matematikanya.

Saya melihat semua itu sambil bergetar saking marahnya. Saya tidak ingat saya pernah semarah itu di kelas. Saya terpaksa menariknya keluar kelas karena saya mencoba memanggilnya berkali-kali dan ia mengabaikan saya.


Tidak ada alasan, tidak boleh membentak gurumu, ibumu atau ayahmu. Kita bisa berdebat, kita bisa bertengkar, tapi membentak orangtuamu tidak bisa saya terima. Setidaknya tidak di kelas saya. Apapun alasannya. Lihat mata saya kalau saya bicara denganmu. Dengar ya, melempar buku seperti itu, membanting kursi, membentak gurumu, itu sama sekali tidak boleh. Ibumu sayang padamu, guru matematikamu juga begitu, kamu selalu dibantu. Tidak boleh memperlakukan mereka dengan kasar seperti itu. Kamu harus minta maaf pada Ibu Matematika. Setelah itu baru kamu boleh masuk kelas saya.


Beberapa kali anak ini meledak marah. Sekali waktu pernah ia pernah berbalik marah pada saya karena ditegur. Anehnya kali ini dia tidak marah pada saya. Ia menangis dan bilang ia mau minta maaf. Kami berpelukan. Saya minta maaf karena saya marah padanya, tapi saya harus marah padanya. Saya tidak bisa membiarkan perilaku seperti itu dimaklumi dan kemudian menetap.

Ketika ia masuk kelas dan minta maaf pada guru matematikanya, saya yang menangis di kamar mandi.

Wednesday, April 18, 2007

Malu

Di tengah pelajaran Bahasa Inggris, Sargie menangis tersedu-sedu. Ia ada di pelukan The English Teacher sambil menggumam, "I am so sorry, I didn't mean it!"

Ternyata, ada insiden kecil. Sargie tak sengaja buang gas di tengah diskusi, beberapa temannya tertawa dan berkomentar. Sargie yang rentan kalau membuat kesalahan langsung merasa "runtuh".

The English Teacher mengijinkan saya mengajak Sargie keluar. Kami mencari tissue, dan Sargie masih tersedu-sedu di kamar mandi.

Saya duduk di dekatnya.

Saya: Sargie malu ya?
Sargie: (mengangguk-angguk) Aku tadi sebenarnya sudah sakit perut. Aku sedang berpikir bagaimana mengatakannya dalam Bahasa Inggris. Lalu terlanjur...
Saya : Tidak apa-apa. Kadang-kadang kita membuat kesalahan. Ibu rasa sebentar lagi teman-temanmu juga lupa.
Sargie : Aku bagaimana bisa lupa tadi aku yang berbuat. Lalu ditertawakan. Aku kan sedih sekali. (Menangisnya makin keras). Disininya bu (menunjuk dadanya) nggak bisa hilang.

Beberapa lama Sargie saya biarkan bercerita tentang apa yang dirasakannya. Ia masih belum mau masuk kelas. Ia mengambil minum sebentar lalu duduk di luar lagi.


Saya : Kadang-kadang tidak apa-apa lho, berbuat salah. Apalagi tidak sengaja seperti tadi.
Kalau kamu tidak pernah salah, tidak bisa jadi lebih baik. Tidak tahu salah itu rasanya seperti apa dan bagaimana supaya lain kali tidak salah lagi. Kalau kita tidak pernah salah, kita tidak bisa mengerti kalau orang lain membuat kesalahan atau mengalami kecelakaan kecil. Seperti teman-temanmu tadi, mungkin mereka belum tahu. Sargie sekarang sudah tahu, berarti Sargie sudah jadi anak yang lebih baik. Sudah tahu salah rasanya seperti apa, malu rasanya seperti apa. Kamu jadi tidak mau menertawakan orang kan? Lagian sudah tahu, harus bagaimana lain kali kalau perutnya sakit?
Sargie; (tersenyum sedikit) Iya sih.
Saya : See, you've learned something new.
Sargie : Iya. Aku sekarang sudah siap masuk kelas lagi.
Saya : Ok.

Saturday, April 14, 2007

Alat Tulis

Berkat IPDN, semua media membahas tentang sekolah-sekolah berasrama dan cara mereka menerapkan disiplin. Para mahasiswa pun diwawancara tentang dispilin-disiplinan.

Seorang mahasiswi ditanya mengapa ia memelihara kamarnya agar tetap rapi (pemeriksaan dilakukan secara berkala), si mahasiswi menjawab, "Soalnya malu, nanti namanya ditulis di jurnal".

Ia bicara tentang hukuman.

Untuk masalah lain lagi si mahasiswa menjawab, "Saya takut dikeluarkan."

Lagi-lagi bicara tentang hukuman.

Buat saya cukup memprihatinkan kalau beberapa mahasiswa yang dipilih secara acak lalu ditanyai selalu menjawab dengan pertimbangan takut akan peraturan dan hukuman.

Ayo kembali ke kelas kami. Di sekolah kami anak-anak tidak perlu membawa alat tulis sendiri. Sekolah menyediakan semua alat tulis yang dibutuhkan seperti pensil, penggaris, penghapus, pensil warna, spidol dan krayon. Saya mengelompokkan peralatan itu masing-masing empat set dan memasukkannya dalam sebuah kardus berwarna. Setiap kelompok meja mendapat satu kardus.

Kericuhan terjadi setiap ada anak yang asal comot alat tulis lantas tidak mengembalikannya ke kardus semula. Tiap kali terdengar teriakan, "HEI. INI PENGHAPUS DI KOTAK KUNING KOK CUMA DUA?"

Maka kami sepakat untuk selalu mengambil kotak alat tulis itu tiap pagi, meletakkanya di meja, baru menggunakannya bersama-sama.

Suatu pagi Zaky tidak melakukannya. Ia ambil pensil saja dan langsung memakainya. Teman-temannya protes. Saya membawa "masalah" ini ke dalam diskusi pagi.

Mengapa kita harus membawa seisi kotak dan bukan cuma pensilnya saja?

Fia bilang, " Supaya tidak hilang-hilang, Bu. "

Medina menambahkan, " Kalau ternyata yang kita ambil punya kelompok lain nanti mereka bingung mengapa alat tulisnya berkurang, dan tidak tahu ada di mana."

Kata Tara, "Kalau tiap kali kita harus mencari-cari nanti bisa kehabisan waktu untuk mengerjakan yang lain."


Anak-anak saja bisa diajak mengerti mengapa kita sebaiknya melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Apakah jika mereka makin dewasa kelak, mereka akan potong kompas dan melakukan sesuatu hanya karena harus atau takut?

Semoga tidak.

Friday, April 13, 2007

Disiplin

Siang ini kami menulis tentang "Disiplin". Tidak, mereka tidak salah apa-apa dan saya juga tidak sedang marah atau berusaha mengajari mereka tentang apa itu disiplin.

Saya ingin tahu apa itu disiplin di mata mereka. Maka saya melemparkan pertanyaan-pertanyaan seperti apa itu disiplin menurutmu? Orang yang disiplin seperti apa? Orang yang tidak disiplin seperti apa? Mengapa orang tidak disiplin? Apa akibatnya kalau tidak disiplin? Dan masih banyak pertanyaan lagi. Selama diskusi berlangsung saya menjadi pendengar aktif. Saya hanya mengulang apa yang mereka katakan, tidak memberi pembenaran maupun menyalahkan.


Pada umumnya anak-anak menjelaskan bahwa disiplin adalah mengikuti peraturan. Mereka memberi contoh-contoh sederhana seperti merapikan mainan dan membuang sampah pada tempatnya. Satu contoh menarik yang muncul : Menggunakan toilet untuk difabel padahal seharusnya tidak berhak dianggap anak-anak tidak disiplin dan merugikan orang-orang difabel yang membutuhkannya.


Saya mengira, seperti pada tahap perkembangan Moral Kohlberg, anak-anak menganggap disiplin mengikuti peraturan bertaut erat dengan hukuman. Jika tidak disiplin akan menerima hukuman.

Saya salah. Ketika saya bertanya pada mereka, mengapa orang tidak disiplin? Beberapa anak menjawab dengan tegas,

"Orang yang tidak disiplin itu tidak mau memikirkan orang lain bu. Padahal kalau tidak disiplin kan bisa membuat orang lain celaka. Misalnya kebanjiran, atau macet."

Rai menambahkan cerita tentang orang yang merokok di kebun binatang padahal puntung rokoknya bisa dimakan binatang lalu mereka mati.

Jadi mereka menyimpulkan bahwa kita harus melihat dulu apa akibat perbuatan kita pada orang lain. Menurut Sekar, kita harus melihat apakah orang lain juga nyaman atau tidak.

Ketika saya bertanya kembali, bagaimana caranya agar orang bisa disiplin?

Ada yang bilang kita harus meletakkan petugas di mana-mana agar semua orang bisa diawasi. Ada yang berpendapat kita harus memasang poster peringatan di mana-mana. Tetapi, seorang anak berpendapat, "Menurutku kita harus memberi contoh agar orang lain meniru."


Malu mendengarnya.

Thursday, April 12, 2007

Bola

Pelajaran olahraga selama saya sekolah bukanlah kenangan yang menyenangkan. Saya bukan jagoan, tidak gesit, dan takut bola. Saya selalu berdalih saya ini alergi bola. Saya adalah jenis anak yang akan dipilih paling akhir untuk masuk sebuah tim olahraga. Saya sering menimbulkan tatapan iba para guru olahraga tiap harus ambil nilai untuk ketrampilan-ketrampilan menggunakan bola. Saya sendiri sudah punya kepercayaan bahwa saya dan bola tidak cocok.

Maka ketika saya mengajar dan juga harus memfasilitasi anak-anak berolahraga, ibu saya memandang saya terheran-heran, "Kamu memang sekarang sudah bisa nangkep bola?'

Untungnya sudah lumayan. Mungkin karena sekarang saya berolahraga rutin (jadi sudah agak lancar membedakan kanan dan kiri) dan mungkin juga karena peran saya memfasilitasi mengharuskan saya percaya diri memegang dan memainkan bola dengan sederhana.


Sekolah kami baru membeli banyak bola basket. Melihat kakak-kakak kelas 3 dan 4 latihan basket, anak-anak kelas 2 juga ingin main basket. Tadi saya membawa dua bola basket dan membuat permainan-permainan untuk latihan dribble.

Permainan selalu berhenti saat bola jatuh ke tangan Dewa. He has no clue about dribbling. Lama kelamaan temannya mulai marah. Dewa makin panik. "Aku belum bisa. Aku tidak bisa."


Saya ingat pengalaman masa kecil saya dan bola. Saya tidak mau Dewa juga frustrasi dan terlanjur pecaya bahwa ia tak bisa. Saya melempar satu bola untuk mereka, lalu menggandeng Dewa keluar lapangan dengan bola yang lain.

Saya minta ia memegang tangan saya selagi saya memantul-mantulkan bola. Saya minta ia merasakan saya mendorong bola bukan memukul bola. Saya terus bicara dan memberi contoh bagaimana melakukan dribble sederhana. Dewa terus mencoba. Lima menit kemudian ia sudah bisa menjaga bola itu ada di tangannya, tidak lari ke mana - mana dan tidak berhenti melambung.

"Lihat, Dewa sudah bisa!" Fia memberitahu teman-temannya. Semua bertepuk tangan senang. Dewa bisa ikut lagi dalam permainan tanpa membuat teman-temannya sewot.

Saat kami mencoba memasukkan bola dalam keranjang, Dewa pun sempat berhasil memasukkan satu atau dua kali. Sepanjang permainan anak-anak senang dan sibuk bersorak-sorak.

Menjelang pulang sekolah, Dewa mendekat.

Dewa : Bu, bu beli bola basketnya di carefour ya?
Saya : Mungkin ya, Bu Tia juga kurang tahu.
Dewa : Kalau keranjangnya di mana? Mahal tidak bu? Sejuta ya bu?
Saya : Hehehe, sepertinya tidak semahal itu.
Dewa : Aku ingin punya. Aku mau latihan di rumah.


Sepertinya Dewa lebih mengingat 'keberhasilannya' mendribble bola dan memasukkan bola dalam keranjang, "AKU TADI SUDAH MENCETAK GOL!" daripada rasa paniknya saat tidak bisa menguasai bola di tangannya.

Wednesday, April 11, 2007

Besar Hati

Anak-anak itu, meski kecil, besar hatinya. Saya bisa tidak bosan-bosan membahas bagaimana mereka sangat mudah saling memaafkan.

Gita menghampiri saya di jam istirahat. Sendirian.

Gita : Bu, tadi Sargie giniin kepalaku (ia menunjukkan gerakan yang dimaksud)
Saya : Bagaimana Bu Tia tahu kejadian yang sebenarnya kalau Sargie tidak ikut ketemu Bu Tia. Kamu ingin Bu Tia membantu menyelesaikan masalahnya?
Gita : Iya.
Saya : Mana Sargie.


Saya tidak mendorong kebiasaan mengadu. Saya selalu bilang pada mereka, kalau ingin saya membantu menyelesaikan masalah di antara mereka, semua harus datang. Tidak cuma satu orang, tapi semua yang merasa bermasalah.

Lama sekali mereka tidak datang-datang. Saya menyusul ke halaman bermain dan memperhatikan dari jauh. Tampaknya Sargie enggan. Mungkin ia merasa bersalah dan takut dimarahi.

Tak berapa lama, mereka berdua mendatangi saya.

Saya : Jadi tadi bagaimana ceritanya?
Sargie : (Matanya sudah berkaca-kaca) Tadi Sargie bilang beratnya lebih satu kilo menurutku.... (sambil menangis Sargie mencoba menceritakan apa yang memicunya memukul kepala Gita)
Saya : Begitu. Kalau menurut Gita bagaimana?
Gita : Enggak Bu, tadi itu seperti ini. Aku maksudnya bercanda, tapi aku dipukul.
Sargie : Nggak, aku nggak dibilangin kalau itu bercanda. Aku nggak tahu kalau itu bercanda.
Saya : Oh, jadi tadi sebenarnya bercanda, Sargie. Tapi mengapa memukul?
Sargie : Aku tadi sudah minta maaf tapi tidak dimaafkan.
Gita : Belum minta maaf.
Saya ; Sudah atau belum minta maaf?
Gita : ehmm... sudah tapi belum salaman.
Sargie ; Sudah aku kasih tanganku tapi Gita tidak mau.
Saya : Kenapa tidak mau?
Dua-duanya diam.
Saya : Kalian masih marah ya? Kalau tidak bermaafan, teman kita berkurang satu. Rugi kan?
Gita : (mengulurkan tangan) maaf ya.
Sargie : (masih berurai air mata, menyambutnya) Aku juga maaf ya.
Saya : sudah mau main lagi?


Sargie mengapus air matanya. Mereka pergi bergandengan naik ke trampolin sama-sama. Tak ada yang bertanya mengapa Sargie sembab wajahnya. Tak ada yang mengungkit lagi apa yang terjadi.

Sampai bel berbunyi mereka masih berlari masuk kelas sambil bergandengan.

Sejujurnya saya berharap dalam hati, saya, dan semua orang di sekitar saya juga punya hati yang sama besarnya untuk cepat saling memaafkan seperti itu.

Tuesday, April 10, 2007

Belajar

Sejak dulu saya tidak pernah mengerti bagaimana orang bisa menangis histeris sampai pingsan hanya karena bertemu bintang pujaan. Buat saya itu aneh banget.

Hari ini saya agak mengerti karena setelah bertemu seseorang, saya gemetar beberapa saat lamanya. Ketika ia bicara, saya tidak bisa mengalihkan perhatian. Saya tidak bisa tidak meluap-luap dan hampir berkaca-kaca mendengarnya bercerita tentang sekolah Qaryah Thayyibah. Sekolah favorit buat saya. Satu-satunya sekolah yang membuat saya berpikir untuk pindah ke Salatiga begitu kelak saya punya anak.

Ya, hari ini saya ketemu Pak Bahruddin pemrakarasa sekolah Qaryah Thayyibah itu dalam sebuah seminar. Saya nekat menyapa. Saya polos berkata, "saya fans berat sekolah bapak..." Dan lebih konyol lagi, saya berkomentar, "Kok bisa sih pak... dalam tiga tahun anak-anak bisa berubah dan berpikir seperti itu?"

Sekarang saya jadi malu.

Enough being emotional.

Pak Bahruddin hari ini membawakan kami video dan bercerita tentang anak-anaknya di Kalibening, Salatiga. Anak-anak usia SMP yang matanya bening, meluap-luap oleh semangat dan kesenangan belajar. Anak-anak ini fasih berbahasa Inggris, terpapar internet kapanpun mereka mau, dan memiliki banyak karya. Beberapa diantaranya adalah dua lusin buku yang dituis sendiri oleh anak-anak itu. Belum terbilang rekaman, film pendek, video klip, dan entah apa lagi.

Anak-anak ini lulus SMP dengan menolak ikut UAN. Mereka membuat disertasi-disertasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari meski kalau mendengar temanya membuat orang seperti kita ternganga. Agrobisnis. Energi alternatif. Limbah. Mereka menolak masuk SMU Unggulan, tetapi memilih menyelenggarakan pendidikan setaraf SMU sendiri.

Itu yang saya maksud dari pertanyaan konyol saya pada Pak Bahruddin yang sepertinya jengah dengan puja puji banyak orang. Kok bisa sih, dalam waktu tiga tahun mencetak anak-anak dengan watak belajar seperti itu. Tiga tahun. Tiga tahun ini saya mengajar di ruang kelas dua yang sama dan hanya membuat perubahan dua sentimeter, not a big leap.

Tiga tahun dan anak-anak ini punya rasa percaya diri untuk apa saja. Untuk bicara, menyusun konsep, membuat penelitian, empatik dan penuh perhatian, kritis, aduh sebut saja. Saya kehilangan kata-kata.

Mendengarkan Pak Bahruddin bicara ditingkahi pertanyaan-pertanyaan para peserta, saya berkesimpulan itu adalah masalah sudut pandang. Paradigma berpikir. Para pendamping (bukan pengajar, catat itu) sangat berbesar hati untuk berdiri di sisi yang sama dengan anak-anak yang didampinginya. Mereka rendah hati untuk tidak berkata saya tahu segalanya dan saya akan beritahu kamu segala yang benar dan baik. Mereka mendampingi anak-anak menemukan dirinya dan terus belajar tentang segala hal. Mereka punya keyakinan besar untuk mempercayai setiap anak bahwa mereka bisa melakukan hal-hal hebat meski tinggal di ujung gunung.

Dengan ringan Pak Bahruddin bilang, "Anak-anak belajar banyak ketika kita berhenti mengajar mereka."
Seisi ruangan protes, "Lalu kita kerja apa?"
Sementara itu isi kepala saya bergerak pada saat-saat menakjubkan di kelas ketika anak-anak menunjukkan kemampuan yang luar biasa saat saya bilang pada mereka, "Terserah kalian!"

Cara berpikir seperti ini yang tidak dimiliki kebanyakan penonton seminar tadi. Ada yang bertanya, bagaimana bisa membuat anak-anak dapat fit di lingkungannya kalau mereka tidak punya ijasah dan tidak bisa kuliah. Saya bengong. Itu buku-buku di depan, apa? Buku-buku itu anak-anak yang menulis lho. Disertasi-disertasi tadi ditulis anak-anak berdasarkan masalah di lingkungannya. Ijasah apa lagi yang bisa membuat anak-anak tadi fit di lingkungannya.

Aduh, saya begitu bersemangat sampai tidak menemukan padanan kata fit dalam Bahasa Indonesia saat ini.

Kalau belajar di tengah sawah begitu bagaimana membuat anak-anak disiplin? Saya ingin balik bertanya, perlu disiplin macam apa lagi yang bisa membuat anak-anak tekun mengerjakan lebih dari dua buku dalam setahun? Membuat penelitian sendiri?

Kalau mereka tidak punya ijasah bagaimana bisa jadi dokter dan insinyur?

Sambil mencatat pertanyaan-pertanyaan ajaib ini saya ingat di dalam film pendek tentang sekolah Qaryah Thayyibah ada seorang anak perempuan bertutur manis bahwa ia ingin jadi presenter. Alasannya di kelas sering ada presentasi, dan ia sering ditugasi mewawancara orang-orang sekitarnya. Menurutnya kegiatan itu menarik.

Saya tidak heran. Di tahun 2000 sekian ini cita-cita memang tidak terbatas pada dokter dan insinyur. Keinginan mereka jauh berada di atas keinginan membanggakan nenek, kakek, buyut, canggah, ayah, ibu, kakak, adik, sepupu dan seluruh keluarga besar dengan ijasah dokter dan insinyur.

Anak-anak di ujung gunung ini bisa melihat cakrawala dunia lebih luas daripada kita yang terperangkap di dalam bis kota. Mereka tahu bagaimana bisa bermanfaat bagi dunianya dan mereka sudah memulainya dengan puluhan penelitian dan buku-buku tulisan sendiri.

Semua orang di dalam ruangan tadi meragukan keberhasilan metode belajar kontekstual gila-gilaan yang diterapkan Qaryah Thayyibah jika diaplikasikan di ruang belajar mereka saat ini. Saat Pak Bahruddin menjawab dengan lugas tentang cara pandangnya pada BISA dan TIDAK BISA, saya miris dalam hati. Sepertinya jelas bahwa sistem pendidikan yang ada sekarang berantakan. Kita semua mengeluhkannya di sana sini. Ketika ada pembaharuan datang dengan bukti nyata seperti skor UAN tertinggi di wilayahnya, serta deretan hasil karya, tetap saja ada yang bertanya mana kesesuaian pembaharuan ini dengan sistem yang lama?

Ada yang salah tidak ya?


Bagaimanapun, lepas dari omelan panjang pendek dan perasaan penuh yang mendera saya semalaman, hari ini saya belajar banyak tentang peran saya di ruang pekerjaan saya.

Saya ingin makin memantapkan hati untuk tidak menjawab, saya adalah seorang guru yang mengajar, jika ada orang bertanya apa pekerjaan saya.

Saya Tia. Pekerjaan saya, menemani anak-anak belajar sambil saya sendiri belajar.





My Great Alexander, saya betul-betul butuh kamu untuk duduk di sebelah saya tadi siang. Saya butuh tambahan mulut yang tidak ada remnya seperti mulut saya. Saya butuh partner untuk menertawakan diri sendiri, juga untuk berharap dunia itu bisa jadi lebih baik.

Monday, April 09, 2007

Di mana Ada

Ini waktu istirahat.

Saya dan The English Teacher sedang mengobrol tentang Ujian Nasional.

Anak-anak sudah selesai makan dan sebagian sudah main di luar.

Dua orang anak di kelas tidak keluar. Mereka sedang sibuk mencari arti kata 'fatamorgana' dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang tebal dan merah itu,

The English Teacher memperhatikan mereka lalu menoleh pada saya,

"Di sekolah mana ada anak yang membaca kamus waktu istirahat?"

She must be very proud.



Menurut saya? Memang sulit mengalahkan rasa penasaran.

Sunday, April 08, 2007

Membaca dengan Menyenangkan

Di koran langganan kami sering ada resensi film. Anak-anak ribut mencari resensi buku itu seperti apa. Setelah akhirnya kami menemukan beberapa resensi buku dalam koran langganan itu, Medina berkomentar, "Bu, resensi buku ini sih sama saja dengan laporan buku kita..."

Ya, memang.

Anak-anak di sekolah kami selalu meminjam buku di perpustakaan setiap minggu. Ibu guru yang suka iseng juga selalu melampirkan sebuah lembar bernama Laporan Buku alias book report tiap kali mereka meminjam buku. Ada versi fiksi dan non fiksi. Di dalam laporan buku fiksi saya minta mereka menulis siapa saja tokohnya dan bagaimana ringkasan ceritanya. Dalam lembar non fiksi, saya minta mereka menulis apa isi buku itu secara umum, dan pengetahuan baru apa yang mereka dapat. Apapun bukunya, saya selalu meminta mereka menggambar bagian buku yang paling mereka suka.

Awalnya, hanya agar anak-anak tidak cuma sekedar memilih buku lantas mengembalikannya kepada saya tanpa dibuka isinya.

Akhirnya, saya melihat banyak sekali kemajuan yang mereka buat. Pertama, anak-anak kelas 2 sudah tahu persis mana buku fiksi dan mana buku non fiksi. Mereka sudah tahu buku-buku mana yang bisa dijadikan referensi dan buku mana yang bisa mereka nikmati karena lucu atau ceritanya menarik.

Kemudian, anak-anak jadi begitu lihai meringkas buku. Laporan buku mereka makin hari makin baik. Tanpa perlu melihat bukunya saya sudah bisa menangkap isi seluruh buku. Bukan cuma lumayan namanya, kalau yang menulis masih seusia mereka. Ruang menulisnya saya buat terbatas. Jadi anak-anak tidak keasyikan menyalin atau kemudian menganggap hebat kalau bisa cerita rinci, bukan runtut.

Saya rasa para orang tua juga berperan besar dalam kemajuan mereka. Saya kan tidak duduk dan membaca di samping mereka selama akhir pekan.

Tetapi, kadang-kadang saya menerima komentar seperti

"Aduh bu, si adik nggak akan bisa menceritakan lagi bukunya. Bukunya kan bahasa inggris."

atau

"Bukunya tebal sekali. si kakak belum selesai-selesai membaca sendiri."


Sayang sekali.

Membaca buku bukan hanya tugas yang jadi alat melatih anak bisa membaca dan mengerti sendiri. Mengapa buku tidak dijadikan teman bersama?

Kalau bukunya kebetulan berbahasa asing, dan anak-anak belum lagi lancar membaca kata-kata sulit, mengapa tidak Ibu yang membacakan? Mengapa anak-anak tidak diajak melihat gambar dan menduga apa sebenarnya isi cerita yang dibacakan ibu? Bagaimana dengan membaca bergantian? Ayah yang membacakan narasinya anak-anak yang membacakan dialog pendeknya?

Kalau bukunya tebal, mengapa tidak duduk bersama dan membacanya bergantian? Anak-anak yang sudah bisa membaca tidak berarti harus membaca sendiri supaya tahu bagaimana caranya membaca. Dari dibacakan pun mereka belajar banyak tentang membaca, dan tentunya menikmati membaca. Mengapa tidak sesekali ayah dan ibu juga membuat "laporan buku" supaya anak-anak punya model yang bisa ditiru?

Karena, seringkali saya membiarkan anak-anak meminjam buku-buku yang ditujukan bagi anak-anak yang lebih besar dari mereka. Bukan berarti mereka harus bisa membaca dan mengerti tiap lembarnya sendiri. Saya pikir, kalau anak-anak tertarik, tidak ada salahnya. Kadang saya tinggalkan pesan di agenda agar ayah atau ibu membantu membacakan.

Saya pikir anak-anak tidak akan kehilangan kemampuannya membaca hanya karena dibacakan buku. Selagi acara membaca buku tetap menarik, isinya mengundang rasa ingin tahu dan ketagihan... mengapa tidak?

Wednesday, April 04, 2007

Jiwa Panitia

Semasa kuliah saya punya seorang teman dekat yang dijuluki "panitia" oleh teman-teman kami (termasuk saya tentunya). Mengapa? Karena ia selalu tampak serius dan sibuk oleh banyak hal. She is a very nice friend.

Beberapa hari ini saya mulai melihat bahwa anak-anak juga punya bakat jadi panitia. Diawali dengan proyek mendongeng di kelas saya.

Anak-anak begitu bersemangat mendengar saya berencana mengirim mereka ke kelas-kelas yang lebih muda untuk mendongeng minggu depan. Saya sudah membagi-bagi dongeng dan kelompok-kelompok.

Medina : Bu, aku punya buku Sehari Menjadi Pendongeng, besok aku bawain ya?

Bintang lebih histeris lagi. Ia langsung mengoceh tentang rencananya belanja bahan-bahan untuk membuat boneka tangan dengan ibunya. Ketika saya minta setiap kelompok memilih bagaimana cara mereka akan mendongeng, apakah dengan boneka, kostum, atau efek suara, dengan segera Bintang dan kelompoknya memilih ketiga cara di atas.

Menjelang waktu pulang, saya ingatkan mereka untuk menjaga agar lembar dongengnya tidak sampai hilang. Saya tak punya gantinya. Kalau hilang, fotokopi sendiri dari temanmu.

Bintang : Kalau begitu Bu, nanti pulang sekolah aku akan fotokopi naskahku empat kali. Murah kok bu, cuma seratus selembarnya. Jadi kalau empat cuma empat ratus. Jadi kalau hilang semua sudah ada gantinya.

Preventif sekali.

Siangnya, saya bersama Ibu Lucy menemani anak-anak kelas 3 dan 4 menyusun Buku Tahunan. Kami menjelaskan proses penyusunannya dan besar biaya yang kami butuhkan. Ada satu kelompok anak kelas 4 yang bertugas jadi tim iklan dan sponsor. Saya minta mereka bertanya pada orangtua dan orangtua temannya untuk membuat daftar orang-orang yang dapat dihubungi untuk dimita menjadi sponsor.

Setengah jam berikutnya mereka sudah meeting serius. Ketika saya melongok, kertas mereka sudah berisi daftar calon sponsor (bukan hanya nama orangtua yang harus dihubungi). Mereka sudah tulis nama perusahaannya segala! Mereka sibuk mempertimbangkan siapa saja yang bisa dihubungi karena kenal banyak orang.

Mini : Itu, kita telepon aja mamanya Lika. Mamanya kan produser. Pasti kenal banyak orang deh.
Saya : Berani, telepon mamanya Lika?
Mita : Ya berani, lah buuuu....

Mereka sudah cemas soal presentasi. Kalau nggak bisa bagaimana. Saya tertawakan. Pasti bisa. Pasti mengesankan, meskipun kikuk dan sradak-sruduk. Meskipun polos dan salah ngomong, saya yakin para calon sponsor akan tersenyum-senyum melihat anak SD jadi panitia.



PS: Ada yang berminat jadi sponsor buku tahunan kami? :)