Saturday, June 02, 2007

Selama ini...

Akhir tahun ajaran sudah hampir datang lagi. Cepat ya? Kali ini bahkan saya belum sempat merasa sedih karena hampir berpisah.

Beberapa hari lalu saya menunjukkan lembar foto-foto kelas yang akan dimuat di buku tahunan. Alexander The Great membantu saya menyusunkan foto-foto dan memberi ruang bagi anak-anak untuk menggambar. Rencananya begitu, tapi sayangnya kami tak bisa melakukan apa yang kami rencanakan. Ada yang menganggap gambar anak-anak itu sama dengan scribbling. Sementara saya - seperti para orangtua yang bangga pada anaknya- menganggap gambar mereka mahakarya. Susah juga kan, kalau berbeda pendapat.

Tetapi saya sempat mengajak anak-anak berdiskusi, apa yang akan kami gambar dan tulis dalam ruang kosong. Tadinya anak-anak mau menulis apa yang mereka senangi di kelas dua. Tempatnya tidak cukup. Lalu anak-anak berpikir untuk menuliskan kembali pertanyaan-pertanyaan, "yang banyak dan sering membuat bu tia pusing", tetapi kebanyakan sudah lupa waktu itu bertanya apa. Hanya Fia yang ingat bahwa Bintang pernah bertanya apa itu stroke. Memang foto mereka sedang membaca artikel tentang stroke ada dalam lembar foto itu.

Akhirnya, kami sepakat untuk melengkapi kalimat ini dengan kata-kata yang sesuai.


Di Kelas Dua, kami suka ....

Anak-anak melengkapinya dengan


... bertanya

... berdiskusi

... menggambar

... membaca

... tertawa

... presentasi

... bermain .... dan

... mencoba hal-hal baru!


Ternyata tahun ini tidak cepat berlalu. Ternyata selama ini kami ... SIBUK!!

Friday, June 01, 2007

Mind Map

Saya sedang mencoba mengajak anak-anak menggunakan mind map. Agak terlambat sebenarnya, mengingat tahun ajaran akan berakhir satu minggu lagi. Masalahnya, saya agak ragu bahwa anak-anak seusia kelas 2 SD bisa membuat mind map.

Lalu saya kembali pada pemikiran bahwa kita tak pernah tahu batas anak-anak ini kalau tidak dicoba. Sering sekali, dan mudah sekali, kita memandang anak-anak lebih rendah dari sebenarnya (sungguh ini terjemahan bebas dari underestimate, hehehehhe). Kalau selalu melihat seperti itu, bisa-bisa saya tidak pernah menemukan kejutan-kejutan menyenangkan tentang kemajuan mereka.

Bersama kelas ini saya jadi sering berpikir, oh well, coba saja. Beri stimulasi saja. Nanti mereka, anak-anak ini, pasti bisa menentukan sendiri sejauh apa mereka ingin dan bisa pergi.

Maka, saya mengajak mereka membuat mind map paling sederhana untuk mengingat berbagai fakta tentang Jepang. Kemarin saya mengajak mereka lagi membuat mind map tentang proses orang jatuh sakit, dan menjaga kesehatan.

Karena anak-anak sangat terbiasa memvisualkan apa yang mereka pikirkan lewat gambar (daripada menghafal buku teks), mereka sangat menikmati kegiatan gambar menggambar ini. Bintang bilang, ia akan menggambar sebagus-bagusnya lalu akan ditempel di dinding kamar untuk menjadi pengingat. Ia marah pada Zaky yang berusaha meniru gambarnya, "Hei, kamu, gambar sendiri. Ini kan ide ku. Kalau kamu pakai ideku kamu nggak bisa ingat isinya nanti. Cara kita mengingat-ingat kan berbeda."

Sargie bertanya berulang-ulang, "Benar Bu, kegiatannnya cuma ini?"

Setiap kali mereka sudah selesai, dan memberikan kertasnya pada saya, saya akan berkata, "Ok, Rai, ayo ceritakan apa yang kamu buat." Maka meluncurlah kata-kata dari mulut mereka, menceritakan apa yang mereka tahu.

"Ini bu, kalau minum obat harus bilang ayah dulu. Lihat dosisnya, jangan terlalu banyak. Kalau kebanyakan kita bisa keracunan dan mati. Selain itu lihat juga tanggal kadaluarsanya."

"Ini kalau kita sakit. Sakit itu karena senjata dalam tubuh kita kalah perang dengan kuman. Aku gambar senjata-senjatanya di sini, sel darah putih, air liur, ini lho. "


Good. Dengan alami saya bisa tahu apa yang tinggal di kepala mereka dan apa yang tidak. Hehehehe.