Ada satu mata pelajaran yang paling sulit dicari bahannya. Namanya PLKJ atau Pendiikan Lingkungan dan Kesenian Jakarta. Apalagi kalau membahas tentang kesenian. Saya cari tamu yang bisa menari betawi, selalu bentrok dengan jadwal kerja mereka. Saya cari foto orang bermain tanjidor di internet, sungguh nggak mumpuni. Akhirnya, saya dapat pinjaman video Anak Naga Beranak Naga dari teman. Isinya tentang Gambang Kromong.
Meski film dokumenter ini agak sulit bagi anak umur sepuluh tahun, saya tetap mengajak mereka nonton hari ini. Saya bebaskan mereka menonton sambil berkomentar dan tidur-tiduran. Saya pause sesekali karena saya harus menyederhanakan penjelasan tentang sejarah peranakan Tionghoa di masa penjajahan Belanda. Tapi, anak-anak mau mendengarkan gambang kromong. Akhirnya, bacaan-bacaan mengenai ambang kepunahan tanjidor, dan gambang kromong jadi nyata di depan mata.
"Oh iya, bener ya bu, yang main udah tua-tua semua. Aku tidak mengira orangnya tinggal sesedikit itu. Aku kira masih banyak."
"Menurut ibu, Ibu Masnah yang di film tadi masih hidup tidak? Mau nggak dia ngajarin kita?"
Nona Hitung saya, Dhara, menyahut, "Film itu dibuat tahun 2005 dan umurnya sudah 80 waktu itu."
Selesai menonton anak-anak masih berkomentar tentang ingin belajar sesuatu tentang Betawi. Ingin belajar menari Bali. Ingin belajar main gamelan.
Pertanyaan Mini menyela lagu Cente Manis Berdiri, "Kalau ayahku pemain gambang kromong, aku bangga tidak ya?"
Susah, pertanyaannya tentang akar.
Tentang identitas
Saya tidak berani menjawab kecuali tersenyum. Dan menanggapi sambil bergumam, "Pertanyaanmu menarik."
Wednesday, February 13, 2008
Thursday, February 07, 2008
Sekali Lagi, Belajar Bermain
Beberapa hari belakangan ini, anak-anak sedang diserang demam kerja keras. Terutama di jam pelajaran matematika, saat mereka sedang belajar tentang pecahan. Setelah berjam-jam penuh permainan, kelas bisa jadi begitu sunyi dan sepi sampai saya takut melangkah. Dalam beberapa pertemuan terakhir, anak-anak akan meneriaki saya kalau saya bilang waktu mengerjakan lembar kerja sudah habis. "SEBENTAR BU, SEDIKIT LAGI!"
Ibu Guru Matematika hanya berbisik, "Sepertinya mereka menikmati, karena mereka sedang bisa mengerjakannya."
Beberapa pertemuan matematika terakhir ini membuat saya belajar, setidaknya menegaskan kembali apa yang harus saya pelajari, bahwa nature anak-anak adalah bermain. Ibu Guru Matematika adalah ibu guru matematika tersabar di dunia yang pernah saya temui. Tidak, bukan karena beliau tidak pernah marah, bahkan pada anak-anak yang lupa membawa pekerjaan rumahnya, tapi karena beliau selalu sabar menunggui anak-anak bermain sampai mereka mengerti bahkan saat kurikulum mengejar-ngejar seperti hantu disela-sela banyak akhir pekan yang panjang.
Ibu Guru Matematika akan memandang saya dengan cemas, mengeluhkan pendeknya waktu, tapi tetap membiarkan anak-anak bermain matematika. Beliau tak pernah terburu-buru mencari jalan tersingkat dengan menyuapi anak-anak. Dengan amat sabar selalu dibiarkannya anak-anak bermain sendiri untuk memahami konsep-konsep matematika.
Nature anak-anak adalah bermain. Jika kita mengambil waktu bermain mereka, maka kita mengambil kesempatan mereka untuk belajar. Tantangan bagi orang dewasa adalah, berhenti bersikap sok tahu dan menyuapi mereka tentang apa yang harus mereka pelajari. Mereka akan belajar, kalau kita biarkan mereka bermain.
Ibu Guru Matematika hanya berbisik, "Sepertinya mereka menikmati, karena mereka sedang bisa mengerjakannya."
Beberapa pertemuan matematika terakhir ini membuat saya belajar, setidaknya menegaskan kembali apa yang harus saya pelajari, bahwa nature anak-anak adalah bermain. Ibu Guru Matematika adalah ibu guru matematika tersabar di dunia yang pernah saya temui. Tidak, bukan karena beliau tidak pernah marah, bahkan pada anak-anak yang lupa membawa pekerjaan rumahnya, tapi karena beliau selalu sabar menunggui anak-anak bermain sampai mereka mengerti bahkan saat kurikulum mengejar-ngejar seperti hantu disela-sela banyak akhir pekan yang panjang.
Ibu Guru Matematika akan memandang saya dengan cemas, mengeluhkan pendeknya waktu, tapi tetap membiarkan anak-anak bermain matematika. Beliau tak pernah terburu-buru mencari jalan tersingkat dengan menyuapi anak-anak. Dengan amat sabar selalu dibiarkannya anak-anak bermain sendiri untuk memahami konsep-konsep matematika.
Nature anak-anak adalah bermain. Jika kita mengambil waktu bermain mereka, maka kita mengambil kesempatan mereka untuk belajar. Tantangan bagi orang dewasa adalah, berhenti bersikap sok tahu dan menyuapi mereka tentang apa yang harus mereka pelajari. Mereka akan belajar, kalau kita biarkan mereka bermain.
Subscribe to:
Posts (Atom)
