Friday, October 06, 2006

Menghafal

Kali ini cerita saya bukan sesuatu yang indah dan menakjubkan.

Salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu oleh kebanyakan murid kelas 2 saya adalah belajar perkalian.* Perkalian jaman dahulu kala, memang diajarkan dengan menghafalkan. Karena kita pun selalu punya kesempatan untuk maju mundur ke jaman dahulu kala dan sekarang, saya tak heran kalau anak-anak ada juga yang tahu perkalian dengan menghafalkan.

Masalah besar muncul ketika ada yang berpikir, this multiplication is a piece of cake because i've memorized it, lalu datanglah soal-soal tentang konsep perkalian, bukan fakta perkalian.

Saya diam saja ketika suara-suara piece-of-cake bermunculan.Setelah setengah jam bermain dadu membuat lingkaran penuh bintang-bintang, ternyata banyak yang kebingungan ketika tidak menemukan deretan soal fakta perkalian di lembar kerjanya, melainkan soal-soal yang membentuk konsep dasar perkalian.

Ketika suara-suara piece-of cake menghilang, barulah saya bicara pada mereka.


Tak ada yang bisa dibanggakan kalau hanya hafal dan tidak mengerti.
Setelah mengerti sehingga hafal, itu hebat.

Bisa jadi banyak yang tak sependapat dengan saya. Kadang-kadang menghafal perlu juga, seperti mengingat kata kerja tidak teratur, kosakata dalam bahasa yang baru dipelajari, dan beberapa contoh lain. Tetapi menghafal dalam matematika hanya akan berujung pada malapetaka. Setidaknya pada soal cerita yang mereka temui.


Mengingat fakta, apalagi banyak fakta sekaligus, memang bisa mempesona orang lain. Tetapi buat saya, begitu banyak fakta tanpa bisa menjalin hubungan antara satu dan lain, menggunakannya untuk memecahkan masalah, atau mengaplikasikannya, tak ada bedanya dengan menjadi kamus berjalan.


Saya tidak mau menjadi guru dari kamus berjalan. Sebab untuk jadi guru kamus berjalan terlalu mudah. Saya tidak perlu mengurangi jam tidur menyelesaikan silabus, saya tinggal membawa rotan seperti jaman es batu.

Alexander The Great berpendapat mulut saya terlalu pedas tentang ini. Ah, saya cuma agak sedih karena saya sedang berusaha menanamkan bahwa belajar adalah eksplorasi. Saya selalu berusaha memuji jawaban-jawaban kritis yang dimunculkan anak-anak saat mereka berusaha menghubungkan fakta satu dan lainnya. Saya tidak membiasakan diri memuji hasil hafalan (rote learning). Percuma, nanti juga lupa.

Ayo nak, jangan kurung pikiranmu dengan menghafal.

Ayo kita jalan-jalan dan gunakan segala yang kita punya untuk memaknai segala yang kita lihat, dengar dan rasakan.


*Sepertinya saya sudah menulis tentang perkalian tahun lalu.


1 comment:

Anonymous said...

Wah... Ti, aku setuju 100% dengan pendapat Tia mengenai menghafal... pertama selain gak akan bermanfaat... kedua juga bisa nurunin daya saing orang2 Indonesia dibanding orang2 bule yang pendekatan belajarnya lebih ke arah mengerti konsep & aplikasi.
Mudah2an banyak guru & sekolah menggunakan pendekatan yang Tia lakukan dalam hal perkalian ini...
Tetap semangat & jaga idealisme ya bu guru :)
Hugs