Tuesday, December 05, 2006

TV Talks

Smackdown tidak laku di kelas saya. Bagaimanapun, televisi menyumbangkan banyak obrolan makan siang yang menarik dan menunjukkan bagaimana spons di kepala mereka sangat efektif menyerap apapun yang terlihat di kotak ajaib, sebagaimana separuh murid-murid di sekolah kami fasih berbahasa Inggris berkat Disney Channel.

Setelah Mati

Anak 1: Bu, Bu… masa bu, kalau suka melawan orangtua nanti kalau sudah mati mayatnya bolong-bolong dimakan belatung.

Saya : Bukan dikutuk jadi batu? (Sure, they won’t understand my cynicism)

Anak 1: Bukan bu, bolong-bolong!

Saya : Do you remember that we talked about respect last term?

Anak 1 : Yes.

Saya : Why do your parents take care of you?

Anak 1 : Because they love me.

Saya : And why should you respect your parents?

Anak 1 : Because I love them.

Saya : I think that is the reason to respect others.

Anak 1: Iya, dan nanti kalau mati bisa bolong-bolong.

Orangtua, terpikirkah oleh anda kalau anak-anak bisa saja mengasosiasikan kita dengan belatung? Kami mendiskusikan penguraian bangkai beberapa minggu setelahnya.

Ciuman

Anak 2 : Ibu, kenapa sih kalau orang ciuman di tv itu mulutnya suka dibuka lebar-lebar baru ciuman.

Saya : Kenapa ya?

Anak 2 : Tidak tahu. Aku juga heran. Ciuman kok seperti mau makan orang.

Keguguran

Anak 1 : Eh, kemarin di TV ada itu lho, ada perempuan lagi hamil digugurin.

Anak 2 : Gugur itu apa sih bu? Meninggal ya?

Saya : Iya.

Anak 2 : Jadi kalau keguguran itu bayinya meninggal di perut ibunya?

Saya : Kurang lebih seperti itu.

Anak 1: Iya, terus kemarin yang menggugurkan itu dokter lho.

Anak 2 : Ih, gimana ya caranya menggugurkan bayi?

Anak 3 : Dipotong-potong kali.

Anak 2: Berarti dokterya jahat dong ya? Membunuh bayi.

Saya terkesima mendengar percakapan itu. Saya baru ingat kalau malam sebelumnya, saya sedang berbicara dengan seorang teman. Kira-kira saat itu pukul 8 malam. Di tengah obrolan kami, tiba-tiba ia menginterupsi dengan kalimat ini, “Gila, TV tambah aneh. Masa ini ada bapak-bapak nyukurin anaknya yang keguguran karena hamilnya di luar nikah.” Saya tanya, mengapa ia menonton. Katanya, kebetulan saja TV menyala.

Saya tidak sadar bahwa di rumah-rumah murid kecil saya TV-TV juga kebetulan menyala, atau kebetulan ditonton. Kebetulan saja ingat apa yang kebetulan ditonton saat kebetulan TV-nya menyala. Barangkali kebetulan juga kalau besok tak sengaja mereka membunuh seseorang, atau menganggap bayi mati adalah sesuatu yang wajar dan bisa diobrolkan sambil menelan. Kebetulan saja anak-anak ini masih berumur 7 tahun.

Kebetulan, adalah sesuatu yang ada di luar kontrol kita. Ya, kan?

Semua pembicaraan itu membuat saya makin teguh hati untuk tidak akan punya televisi kalau saya punya anak sendiri.

9 comments:

Anonymous said...

masih panjang waktu BuTi untuk menimbang keteguhan tidak akan mempunyai TV, memang ada banyak jeleknya, tapi juga banyak baiknya, sama seperti internet, koran, radio, majalah dan bahkan buku. Sekarang bagaimana BuTi nantinya sebagai orang tua untuk memilah-milah dan menjaga mana yang paling baik untuk keluarga. Ada banyak cara untuk "mengunci" informasi yang tidak penting untuk anak, dan jangan lupa, anak-anak juga berhak untuk mendapatkan informasi dari berbagai media.

Tia said...

Saya tidak akan melarang anak-anak saya nonton tv sih, tetapi di rumah tidak ada tv. Hehehehe... Proyektor film boleh ada. :)

Anonymous said...

hahahahahahah... mana yang lebih baik... punya tv dan anak-anakmu nonton tv di rumah dengan pengawasan orang tua atau tidak punya tv dan anak-anakmu nonton di rumah teman/tetangga tanpa pengawasan sama sekali?... hehehehhehe... eehh.. proyektor seru juga ya.. hmmm...

Leny Puspadewi said...

Iya, Bu Ti. Sy juga suka khawatir kalo meninggalkan anak-anak nonton TV sendirian. Agak melegakan, anak2 sy nontonnya film karton (sekarang mereka bisa menikmati Disney Channel, Cartoon Network, dsb yg untuk anak2). Tp apa aman ya? Jangan2 ga aman juga (katanya film2 kartun sekarang sering menayangkan kekerasan juga). BTW, salam kenal ya... sy tau blog ini dari Blogfam, very good blog I think...;)

Leny Puspadewi said...

Karena sy belum selesai membaca semua tulisan di blog ini. Sy minta ijin untuk me-link blog ini di blog sy, boleh ya Bu Ti?

Tia said...

Anak-anak di kelas-kelas saya juga selalu nonton TV kabel. kadang-kadang (atau sering ya?) mereka pick up words dan ekspresi yang menurut saya sih... kurang appropriate. Lebih karena mereka nggak ngerti aja. Misalnya... ada aja anak-anak yang bisa dengan mudah menjawab guru-gurunya dengan kata "Whatever..." dan sambil lalu.

Saya nggak mau terlalu cerewet... tapi kalau hal2 kecil begitu dibiarkan, jadinya keterusan. Soalnya mereka bilang seperti itu benar2 cuma meniru (dan tidak tau akibat jangka panjangnya), kalau tidak ada feedback nanti mereka anggap wajar.

Boleh2 aja di link... :)

Anonymous said...

ya BuTi... memang pastinya banyak hal yang tidak bisa di "rem" masuk ke otak anak2, tapi yang jelek2 itu tidak semata-mata hanya karena televisi lho... seberapapun kita "protect" anak-anak kita pasti tetap ada yang bocor entah dari mana.. teman di rumah, teman di sekolah, atau bahkan di "playground" yang sedang menjamur sekarang ini... (pernah dengar ada kakak yang meneriakkan kata2 kasar kepada adiknya di tengah2 playground? Carlo pernah...) intinya adalah sekarang ini dari keluarga itu banyak yang bisa disaring, tapi suatu hari kalau BuTi sudah punya anak pasti ada waktunya terheran-heran dengan kosakata ajaib anak yang entah didapat dari mana.. memang mungkin TV adalah biang keladi utama kasus ini, tapi seberapa jauh kita mau "protect" anak kita jika komunitas pun tidak menunjang... seram ngga siihh..

Tia said...

betul magda..

nggak semua yang jelek2 datang dari tv. komentar itu cuma contoh aja, kalau bahkan kartun 24 jam sehari pun belum tentu sepenuhnya ok buat anak-anak.

setelah setiap hari lima jam berkutat dengan setidaknya selusin anak2, kebaca juga kok sebenernya sikap, kata2nya, atau apapun itu "datang" dari mana. Gue mulai bisa liat kosakata ajaib itu datang dari : acara tv, kakak yang sudah gede, teman2 di sekitar rumah, nguping orangtua ngobrol... beda kok.

gue setuju... tidak ada yang lebih ngaruh buat anak2 selain peran orangtua dan keluarga.bukan sekolah negeri,swasta, internasional, semi internasional, nasional plus, bagus atau enggak baggus, bukan nonton tv atau tidak nonton tv... tapi ttg keluarga.

dan setiap keluarga jg punya policy sendiri ttg apa yang terbaik utk setiap membernya.

Anonymous said...

Bu Guru... RSS Feed nya di publish dong, biar bisa kami masukkin ke bloglines.

Makasih Buu...

*ssssulit sekali komen disini*