Tiga ratus lema tepat pada hari terakhir tahun ketiga saya menjadi guru kelas dua SD.
Kebetulan yang menarik.
Alexander The Great berpendapat bahwa saya punya hutang besar untuk menginspirasi orang lain. Karena, anak-anak ini sudah begitu banyak menginspirasi saya.
Sampai bertemu lagi.
Saturday, June 09, 2007
Wednesday, June 06, 2007
Malah Bingung
Tiga hari menjelang akhir tahun ajaran. Anak-anak di kelas 2 malah makin sulit membedakan mana kegiatan "belajar" dan mana kegiatan "bermain". Hm, mungkin pembagian ini memang hanya ada di kepala kita, orang dewasa.
Kemarin, untuk evaluasi materi kuartal 3 dan 4 kami bermain kuis Who Wants To Be A Millionare. Seru! Saya membuat 119 pertanyaan dan dihabiskan anak-anak tanpa sisa, meskipun pilihannya cukup menjebak. Anak-anak juga menggunakan pilihan Ask The Audience dan 50:50. Karena semua teman baik hati dan mau membantu menjawab, hampir semua kelompok memilih Ask The Audience kalau sudah terdesak.
Usai makan siang, Bintang bertanya di mana saya meletakkan soal-soal kuis itu.
Ternyata, ia mengulang lagi kuis itu dengan teman-teman sebagai peserta dan dia sebagai host-nya.
Hm, bukannya ini sama saja dengan mengerjakan ulang soal ulangan umum?
Kebiasaan lain yang sering saya lakukan di akhir kuartal adalah membuat daftar tugas sepanjang minggu lalu membiarkan anak-anak mengatur sendiri apa dan kapan mereka mau mengerjakan semua itu. Tugasnya tidak susah-susah, misalnya, membuat sampul buku untuk kumpulan hasil karya mereka, atau mengecat batu untuk alat permainan.
Lama kelamaan anak-anak jadi lebih sering menghabiskan waktu istirahat di dalam kelas, mengoceh sambil menyelesaikan pekerjaannya. Maka, saat ulangan Bahasa Indonesia saya katakan pada mereka,
"Nanti, waktu istirahat kalian main saja ya. Tidak usah mengerjakan apa-apa."
Sambil terus menulis, Fia bertanya, "Memangnya kenapa, Bu?"
"Istirahatlah, nanti capek."
"Lho, memangnya main juga nggak capek?"
See?
Kemarin, untuk evaluasi materi kuartal 3 dan 4 kami bermain kuis Who Wants To Be A Millionare. Seru! Saya membuat 119 pertanyaan dan dihabiskan anak-anak tanpa sisa, meskipun pilihannya cukup menjebak. Anak-anak juga menggunakan pilihan Ask The Audience dan 50:50. Karena semua teman baik hati dan mau membantu menjawab, hampir semua kelompok memilih Ask The Audience kalau sudah terdesak.
Usai makan siang, Bintang bertanya di mana saya meletakkan soal-soal kuis itu.
Ternyata, ia mengulang lagi kuis itu dengan teman-teman sebagai peserta dan dia sebagai host-nya.
Hm, bukannya ini sama saja dengan mengerjakan ulang soal ulangan umum?
Kebiasaan lain yang sering saya lakukan di akhir kuartal adalah membuat daftar tugas sepanjang minggu lalu membiarkan anak-anak mengatur sendiri apa dan kapan mereka mau mengerjakan semua itu. Tugasnya tidak susah-susah, misalnya, membuat sampul buku untuk kumpulan hasil karya mereka, atau mengecat batu untuk alat permainan.
Lama kelamaan anak-anak jadi lebih sering menghabiskan waktu istirahat di dalam kelas, mengoceh sambil menyelesaikan pekerjaannya. Maka, saat ulangan Bahasa Indonesia saya katakan pada mereka,
"Nanti, waktu istirahat kalian main saja ya. Tidak usah mengerjakan apa-apa."
Sambil terus menulis, Fia bertanya, "Memangnya kenapa, Bu?"
"Istirahatlah, nanti capek."
"Lho, memangnya main juga nggak capek?"
See?
Subscribe to:
Posts (Atom)
