Sunday, December 06, 2009

Simple Thought

n
Kemarin, Bu Andin baru mengundang anak-anak dan orang tua murid di kelasnya untuk membicarakan UASBN yang akan datang. Setelah pertemuan selesai, saya menghampiri beberapa anak dan mengobrol dengan mereka. Adinda dan Dhimas mulai bercerita tentang nilai-nilai mereka yang 'good enough', ' quite good', dan ' i have to work harder on it'. Senang melihat mereka makin terampil memetakan kekuatan dan strateginya untuk menjadi lebih baik.

Pertanyaan berikutnya, UASBN jadi atau tidak sih, tahun depan? Sejujurnya, untuk alasan keamanan dan praktis, saya masih berharap UASBN ada. Keribetan prosedur birokrasi membuat saya lebih cemas lagi kalau ujian yang ditetapkan adalah ujian sekolah. Itu kabar buruk untuk sekolah-sekolah baru macam sekolah kami.

Oh, saya masih berpikir bahwa ujian bukanlah maha dari segala tujuan hidup. Proses belajar memang lebih dari sekedar nilai ujian, dan lama kelamaan makin saya sadari, membuat dan mengevaluasi proses belajar yang bermakna itu tidak segampang menghapuskan ujian. Kecuali kita bisa membuat saringan ekstra ketat untuk memilih hanya guru-guru berkualitas sangat baik, ya... Hanya merekalah yang bisa membuat proses belajar dan evaluasi proses belajar yang bermakna untuk tumbuh kembang anak-anaknya. Sisanya, saya bukan sang pemimpi.

Berhembusnya isu ada atau tidak adanya ujian nasional (lagi) membuat saya jadi iseng berpikir. Ibu dari Saras dan Adinda bercerita tentang ICAS, semacam tes pemetaan kemampuan matematika, ilmu pengetahuan alam, dan Bahasa Inggris untuk sekolah-sekolah yang menggunakan kurikulum Australia (Tolong saya dikoreksi kalau salah). Tes pemetaan ini berlaku untuk wilayah Asia Pasifik (kalau saya tidak salah lagi), dan mengingatkan saya tentang tujuan awal ujian nasional; untuk memetakan kualitas pendidikan (atau nilai ujian saja?) di Indonesia.

Peserta ICAS akan mengikuti tes terstandar dan hasilnya berupa kata sertifikat yang menunjukkan apakah nilai mereka dibawah rata-rata, di atas rata-rata, atau luar biasa. Selain itu mereka akan bisa melihat perkembangan kemampuan mereka dari tahun ke tahun. Istilah yang digunakan adalah Participant, Distinction, dan Merit, bukan lulus atau tidak lulus. Anak-anak akan melihat sendiri di mana posisi mereka dalam peta kompetensi anak-anak yang belajar dengan kurikulum yang sama Se-Asia Tenggara.

Saya jadi mikir iseng, mengapa Ujian Nasional tidak menggunakan cara yang sama saja? Selama ini anak-anak jadi objek yang harus memenuhi standar nilai 5,0 atau kurang (atau lebih). Tak ada yang peduli selama ini mereka beneran belajar, atau cuma numpang ngobrol dan tidur di sekolah karena gurunya sering tidak ada.

Saya suka cara ujian ala ICAS itu. Beritahu saja semua siswa dan para pengguna hasil ujian (sekolah, universitas, dll) dan biarkan mereka menentukan hasil macam apa yang ingin mereka capai. Biarkan semua siswa jadi subjek yang bisa menentukan target mereka sendiri (harusnya anak SMP dan SMA bisa dong, anak-anak di SD kami saja bisa kok...)

Lagipula, setelah sekian tahun ujian nasional, maka mestinya Pemerintah sudah punya pemetaan hasil ujian itu. Pakai saja. Taruhlah sekarang kita buat kategorinya, kalau nilaimu 0- 3,0 kamu dianggap sebagai Pernah Ikut Ujian, kalau nilaimu 3,0 - 5,0 kamu dianggap Di bawah Rata-Rata, kalau nilaimu 5,0 - 6,0 kamu dianggap Pas Pasan Saja, kalau nilaimu 7,0 - 8,0 predikatmu adalah Lumayan Juga, kalau nilaimu diatas 8,0 maka kamu adalah Hebat Sekali
Tentu tiap pelajaran bisa beda-beda, tergantung hasil pemetaan.

Biarkan siswa menentukan sendiri berapa nilai yang menjadi target mereka. Biarkan mereka belajar menentukan dengan mempelajari kemampuan diri sendiri, kebutuhan mereka, dan strategi mereka memperbaiki nilai. Saya dulu begitu. Karena sudah tahu mau masuk fakultas apa, saya cari tahu passing grade-nya berapa. Saya kerja mati-matian untuk tembus passing grade itu karena saya setengah mati ingin kuliah di situ. Teman saya yang malas bersaing misalnya, dia akan pilih fakultas yang passing gradenya lebih rendah karena kurang peminat. Ini membuat kami lebih termotivasi untuk banting tulang mendapat hasil yang cukup baik.

Para pengguna hasil tes juga bisa memanfaatkan cara yang sama. Tentukan saja hasil yang anda inginkan. Seandainya saya sebuah SMA misalnya, saya akan minta nilai Bahasa Indonesia dengan kateggori Hebat Sekali, nilai matematika dengan kategori "Lumayan Juga" dan IPA dengan kategori "Lumayan Juga" untuk pendaftar yang masuk.

Hasil seperti ini, lebih student centered, bukan? Anak-anak tidak harus mesti jago IPA dan Matematika untuk bisa lulus. Jika memang lebih baik dalam Ilmu Sosial, maka mereka harus dapat Hebat Sekali dalam ujian Ilmu Sosial. Jangan bilang jago, kalau tidak sampai kategori itu.

Menurut saya sih, cara seperti ini akan membuat anak-anak lebih termotivasi untuk bekerja keras menghadapi ujian. Mereka akan merasa hasilnya bermanfaat, bukan sekedar mengatasi ketakutan tidak lulus saja. Mereka juga jadi belajar menentukan target yang realistis.

Bagaimana?

Tuesday, October 13, 2009

Paradigma Baru

Tahun ini kami mulai mengubah format rapor. Jika tahun-tahun sebelumnya kami mencantumkan rata-rata kelas, tahun ini kami tidak melakukannya. Kami meletakkan standar nilai minimal di samping perolehan nilai anak sepanjang kuartal. Untuk melengkapinya, kami menambahkan deskripsi mengenai kegiatan dan pencapaian anak di setiap pelajaran. Kerja keras untuk para guru, tentunya.

Perubahan paperwork, itu soal mudah. Perubahan paradigma, itu lebih sulit diterima.

Kurikulum 2006 yang sebutannya berbasis kompetensi memang punya paradigma berpikir jauh berbeda dengan kurikulum 1994 dan sebelumnya. Salah satu yang paling besar menurut saya adalah kurikulum 2006 memberi ruang untuk melihat setiap anak sebagai individu yang unik, dan menuntut kerja keras para guru untuk membuat anak-anak memenuhi kompetensi yang dibutuhkan.

Apa konsekuensinya? Salah satunya adalah, laporan berkala tentang prestasi belajar anak tidak lagi diletakkan dalam bingkai "di kelas ia ada di posisi mana?" tetapi "seberapa jauh ia sudah menguasai kompetensi yang diminta dalam tingkatnya?"

Sebagai guru di kelas, sudut pandang ini membuat saya lebih terarah untuk berhenti melabel anak pintar dan bodoh. Saya jadi tidak keburu pesimis dan patah arang pada anak-anak yang biasa menempati posisi tiga terbaik dari bawah. Fokus saya sebagai guru berubah menjadi "apa yang bisa saya lakukan agar mereka menguasai hal ini atau hal itu?", bukan memandang mereka sebagai pecundang di kelas. Begitu mereka menunjukkan bukti-bukti bahwa mereka menguasai hal-hal yang kami syaratkan, maka itu cukup. Langkah berikutnya adalah memikirkan apa yang bisa kami lakukan untuk membuat mereka "lebih baik" lagi, atau memenuhi kompetensi-kompetensi yang belum tercapai sehingga mereka siap naik ke tingkat berikutnya. Daripada menyalahkan dan menilai, sudut pandang ini membuat kami merasa harus bersikap lebih aktif dalam perkembangan anak-anak di kelas.

Begitu pula pada pandangan saya kepada anak-anak yang cerdas di kelas. Begitu kami berhenti menghitung jumlah nilai total, kami pun berhenti menganggap anak yang cerdas harus serba bisa. Kini lebih mudah bagi kami mengenali kemampuan-kemampuan khusus anak-anak di dalam kelas. Oh, si A memang berbakat di matematika. Oh, si B memang jago olahraga. Jika sebagai guru kami diminta membesarkan anak-anak yang mengenal kelebihan dan kekurangan dirinya sendiri, bahagia menerima diri mereka apa adanya, sekaligus terpacu untuk terus memperbaiki diri, sudut pandang ini sangat memudahkan kami.

Di sisi lain, banyak orang tua masih merasa cemas. Dari mana saya tahu anak saya hebat kalau saya tidak tahu apakah teman-temannya hebat atau tidak? Bagaimana kalau nilai 9 anak saya adalah yang terburuk di kelas karena semua dapat 10? Di luar sana kompetisi terus terjadi. Bagaimana anak saya bisa berkompetisi kalau dia tidak bisa membandingkan peringkatnya dengan peringkat teman-temannya?

Hm, mari kita coba membuat sebuah ilustrasi. Anggaplah saya menentukan tujuan belajar bahwa anak di kelas saya harus bisa membaca dengan lancar. Kapan sebaiknya saya berhenti mengajar? Apakah ketika 3 anak sudah bisa membaca dengan lancar, atau ketika seluruh kelas bisa membaca dengan lancar? Seandainya pada akhir masa belajar, 3 anak itu hanya bisa membaca terbata-bata dan 17 sisanya belum bisa membaca sama sekali, dapatkah saya menyebut 3 anak pertama sebagai anak paling cerdas di kelas? Banggakah kita sebagai orang tua melihat paparan statistik itu?

Ketika saya ingin membesarkan anak-anak menjadi anak yang jujur --misalnya--, maka tentu tujuan akhir saya adalah mendapatkan seisi kelas yang jujur, bukan hanya satu atau dua anak paling hebat yang jujur. Tujuan akhir kami mengajar adalah agar anak-anak memenuhi 100 % kompetensi yang disyaratkan, atau hal-hal yang menurut kami seharusnya mereka kuasai. Kalau semua anak di dalam satu kelas mencapai angka 90 % tentu kami bahagia sekali! Itu tidak membuat mereka kurang hebat, meski seisi kelas peringkatnya sama semua.

Ketika saya mengajar, tentu saya ingin semua murid saya berhasil. Tujuan akhir saya bukan menyeleksi siapa yang berhasil atau tidak berhasil, tetapi membuat semua murid saya berhasil. Di sini, saya akan dituntut untuk bekerja keras. Saya dituntut untuk mengerti seluk beluk setiap murid saya sehingga saya bisa membantu mereka dengan cara yang paling efektif agar mereka bisa mengembangkan dirinya. Pandai atau bodoh, saya tetap harus menghargai mereka sebagai anak-anak yang potensial untuk berkembang.

Maka, itulah yang ingin kami sampaikan pada para orang tua. Ini yang kami kerjakan bersama anak-anak di kelas. Ini yang kami harapkan untuk dicapai anak anda. Ini yang ia capai, dan kami bangga melihatnya berkembang. Ini yang belum dicapainya, dan kami memikirkan cara yang tepat untuk membantunya mencapai tujuan itu.

Apakah anak-anak belajar untuk berkompetisi? Ya. Anak-anak bermain dan berlomba di antara kawannya setiap hari. Mereka belajar menikmati kemenangan dan menerima kekalahan. Ini lebih mudah dikenali anak-anak yang masih berpikir konkret dan belum tentu bisa memikirkan konsekuensi jangka panjang dari perbuatannya. Secara alami, Tuhan sudah membuat mereka mengenal kompetisi lewat berteman dan berbagi dengan kakak adiknya. Kami berusaha memberi ruang ini dalam kegiatan sehari-hari.

Sekali lagi, ternyata tidak mudah melihat anak-anak kita sebagai mereka sendiri, bukan mereka dibandingkan kita, kakak, adik, atau temannya! Mari kita luangkan waktu sebentar, meninggalkan semua kecemasan kita tentang mereka, dan melihat bahwa setiap anak adalah istimewa.