Saturday, December 06, 2008

Sudut Pandang

Kami sedang menonton film tentang anak-anak yang dijadikan tentara. Protes-protes mulai bermunculan. Mengapa gereja diserang? Itu kan, rumah ibadah. Mengapa anak-anak diambil di sekolah? Itu kan sekolah, Bu.

Riri : Jadi, sebenarnya siapa yang salah, Bu? Tentaranya atau gerilyawannya.
Dhiadri : Perang itu bukan tentang benar dan salah, tapi tentang menang dan kalah.
Bu Tia : *manggut-manggut saja*.



Kami sedang berusaha membuat periskop sendiri. Agak susah juga membuat ukuran yang tepat. Dhimas sudah selesai lebih dulu, dan berjalan keliling kelas dengan periskop jingga di depan matanya. "Hei, seperti ini rasanya jadi tinggi!"

Kami tertawa jadinya. Dhimas memang mungil, tapi ia masih 10 tahun. Lihat saja, tiga empat tahun lagi, pasti melesat tinggi.


Meski bukan hal baru, tawaran sudut pandang baru mereka di keseharian kami sering memicu saya untuk out of the box.

Kemarin saya dan teman-teman duduk bersama dan mengeluhkan anak-anak yang tak mau bekerja kalau tidak ditunggui dan terus ditanya, "Ayo, nak, kerjakan." "Ayo, selesaikan." "Ayo, jangan bengong dulu. "Ayo, bagaimana ya caranya?"

Sebenarnya mereka tidak bodoh. Kami tahu, karena kami duduk di samping mereka sebenarnya hanya bilang ayo-ayo saja. Keluhan dan harapan bahwa anak-anak ini lebih mandiri terus bermunculan di laporan hasil belajar mereka.

Pembicaraan kami memanjang sampai ke keadaan di rumah-rumah mereka. Terkadang miris saya mendengarnya. Beberapa saja anak yang beruntung dengan perhatian penuh orang tuanya, dan berkesempatan membicarakan apa saja dengan bapak ibunya, atau setidaknya ditemani dan dipeluk sepuluh menit saja setiap hari.

"Mungkin," kata saya, "Anak-anak memang perlu kita temani. Capek memang. Bosan kadang-kadang. Kita juga tahu mereka bukannya tidak bisa, tapi minta ditemani saja. Mungkin, hanya saat kita temani itu, mereka dapat perhatian satu lawan satu seperti apa yang mereka butuhkan. Jadi berikan saja. "

4 comments:

Anonymous said...

MMMMmmmmmm...................

Anonymous said...

kids...

semenyebalkan-menyebalkannya mereka tetap aja lucu2 dan adorable ;)

Unknown said...

filmnya, voces inocentes ya, buti?

Tia said...

@ indra : *senyum saja*

@ rani : Iya sih.

@ elida : betuuuuul..... meski habis itu alex sihar mempertanyakan; emang boleh nonton film itu? hmmmm......