Sunday, April 08, 2007

Membaca dengan Menyenangkan

Di koran langganan kami sering ada resensi film. Anak-anak ribut mencari resensi buku itu seperti apa. Setelah akhirnya kami menemukan beberapa resensi buku dalam koran langganan itu, Medina berkomentar, "Bu, resensi buku ini sih sama saja dengan laporan buku kita..."

Ya, memang.

Anak-anak di sekolah kami selalu meminjam buku di perpustakaan setiap minggu. Ibu guru yang suka iseng juga selalu melampirkan sebuah lembar bernama Laporan Buku alias book report tiap kali mereka meminjam buku. Ada versi fiksi dan non fiksi. Di dalam laporan buku fiksi saya minta mereka menulis siapa saja tokohnya dan bagaimana ringkasan ceritanya. Dalam lembar non fiksi, saya minta mereka menulis apa isi buku itu secara umum, dan pengetahuan baru apa yang mereka dapat. Apapun bukunya, saya selalu meminta mereka menggambar bagian buku yang paling mereka suka.

Awalnya, hanya agar anak-anak tidak cuma sekedar memilih buku lantas mengembalikannya kepada saya tanpa dibuka isinya.

Akhirnya, saya melihat banyak sekali kemajuan yang mereka buat. Pertama, anak-anak kelas 2 sudah tahu persis mana buku fiksi dan mana buku non fiksi. Mereka sudah tahu buku-buku mana yang bisa dijadikan referensi dan buku mana yang bisa mereka nikmati karena lucu atau ceritanya menarik.

Kemudian, anak-anak jadi begitu lihai meringkas buku. Laporan buku mereka makin hari makin baik. Tanpa perlu melihat bukunya saya sudah bisa menangkap isi seluruh buku. Bukan cuma lumayan namanya, kalau yang menulis masih seusia mereka. Ruang menulisnya saya buat terbatas. Jadi anak-anak tidak keasyikan menyalin atau kemudian menganggap hebat kalau bisa cerita rinci, bukan runtut.

Saya rasa para orang tua juga berperan besar dalam kemajuan mereka. Saya kan tidak duduk dan membaca di samping mereka selama akhir pekan.

Tetapi, kadang-kadang saya menerima komentar seperti

"Aduh bu, si adik nggak akan bisa menceritakan lagi bukunya. Bukunya kan bahasa inggris."

atau

"Bukunya tebal sekali. si kakak belum selesai-selesai membaca sendiri."


Sayang sekali.

Membaca buku bukan hanya tugas yang jadi alat melatih anak bisa membaca dan mengerti sendiri. Mengapa buku tidak dijadikan teman bersama?

Kalau bukunya kebetulan berbahasa asing, dan anak-anak belum lagi lancar membaca kata-kata sulit, mengapa tidak Ibu yang membacakan? Mengapa anak-anak tidak diajak melihat gambar dan menduga apa sebenarnya isi cerita yang dibacakan ibu? Bagaimana dengan membaca bergantian? Ayah yang membacakan narasinya anak-anak yang membacakan dialog pendeknya?

Kalau bukunya tebal, mengapa tidak duduk bersama dan membacanya bergantian? Anak-anak yang sudah bisa membaca tidak berarti harus membaca sendiri supaya tahu bagaimana caranya membaca. Dari dibacakan pun mereka belajar banyak tentang membaca, dan tentunya menikmati membaca. Mengapa tidak sesekali ayah dan ibu juga membuat "laporan buku" supaya anak-anak punya model yang bisa ditiru?

Karena, seringkali saya membiarkan anak-anak meminjam buku-buku yang ditujukan bagi anak-anak yang lebih besar dari mereka. Bukan berarti mereka harus bisa membaca dan mengerti tiap lembarnya sendiri. Saya pikir, kalau anak-anak tertarik, tidak ada salahnya. Kadang saya tinggalkan pesan di agenda agar ayah atau ibu membantu membacakan.

Saya pikir anak-anak tidak akan kehilangan kemampuannya membaca hanya karena dibacakan buku. Selagi acara membaca buku tetap menarik, isinya mengundang rasa ingin tahu dan ketagihan... mengapa tidak?

Wednesday, April 04, 2007

Jiwa Panitia

Semasa kuliah saya punya seorang teman dekat yang dijuluki "panitia" oleh teman-teman kami (termasuk saya tentunya). Mengapa? Karena ia selalu tampak serius dan sibuk oleh banyak hal. She is a very nice friend.

Beberapa hari ini saya mulai melihat bahwa anak-anak juga punya bakat jadi panitia. Diawali dengan proyek mendongeng di kelas saya.

Anak-anak begitu bersemangat mendengar saya berencana mengirim mereka ke kelas-kelas yang lebih muda untuk mendongeng minggu depan. Saya sudah membagi-bagi dongeng dan kelompok-kelompok.

Medina : Bu, aku punya buku Sehari Menjadi Pendongeng, besok aku bawain ya?

Bintang lebih histeris lagi. Ia langsung mengoceh tentang rencananya belanja bahan-bahan untuk membuat boneka tangan dengan ibunya. Ketika saya minta setiap kelompok memilih bagaimana cara mereka akan mendongeng, apakah dengan boneka, kostum, atau efek suara, dengan segera Bintang dan kelompoknya memilih ketiga cara di atas.

Menjelang waktu pulang, saya ingatkan mereka untuk menjaga agar lembar dongengnya tidak sampai hilang. Saya tak punya gantinya. Kalau hilang, fotokopi sendiri dari temanmu.

Bintang : Kalau begitu Bu, nanti pulang sekolah aku akan fotokopi naskahku empat kali. Murah kok bu, cuma seratus selembarnya. Jadi kalau empat cuma empat ratus. Jadi kalau hilang semua sudah ada gantinya.

Preventif sekali.

Siangnya, saya bersama Ibu Lucy menemani anak-anak kelas 3 dan 4 menyusun Buku Tahunan. Kami menjelaskan proses penyusunannya dan besar biaya yang kami butuhkan. Ada satu kelompok anak kelas 4 yang bertugas jadi tim iklan dan sponsor. Saya minta mereka bertanya pada orangtua dan orangtua temannya untuk membuat daftar orang-orang yang dapat dihubungi untuk dimita menjadi sponsor.

Setengah jam berikutnya mereka sudah meeting serius. Ketika saya melongok, kertas mereka sudah berisi daftar calon sponsor (bukan hanya nama orangtua yang harus dihubungi). Mereka sudah tulis nama perusahaannya segala! Mereka sibuk mempertimbangkan siapa saja yang bisa dihubungi karena kenal banyak orang.

Mini : Itu, kita telepon aja mamanya Lika. Mamanya kan produser. Pasti kenal banyak orang deh.
Saya : Berani, telepon mamanya Lika?
Mita : Ya berani, lah buuuu....

Mereka sudah cemas soal presentasi. Kalau nggak bisa bagaimana. Saya tertawakan. Pasti bisa. Pasti mengesankan, meskipun kikuk dan sradak-sruduk. Meskipun polos dan salah ngomong, saya yakin para calon sponsor akan tersenyum-senyum melihat anak SD jadi panitia.



PS: Ada yang berminat jadi sponsor buku tahunan kami? :)