Sunday, December 24, 2006

Ibuku Sinterklas

Satu minggu menjelang terima rapor, kami sedang senang-senangnya menyanyikan lagu Rudolph The Red Nose Reindeer. Mey sangat senang. Ia sedang menunggu-nunggu tiga kado dari Sinterklas.

Mey : Bu Tia, Sinterklas itu datangnya jam berapa sih?
Saya : Hmmm.... mungkin tengah malam?
Medina : Sinterklas kan nggak ada.
Mey : Ada ya Bu? (Wajahnya penuh harap)
Saya : Menurutmu bagaimana Mey?

Saya tak berani menjawab tentang keberadaan Sinterklas, sebab saya tak tahu apa yang dikatakan ibunya. Tidak lucu kalau beberapa hari sebelum "kedatangan Sinterklas" saya menuduh ibunya bohong.

Bintang: Yang jelas, Sinterklas yang ada di mall-mall itu palsu semua.

Beberapa hari kemudian, kisah Sinterklas tenggelam oleh Hari Ibu. Di sela kesibukan anak-anak membuat kartu-kartu natal dan tahun baru, mereka juga membuat kartu untuk ibu.

Duh, sebenarnya saya ingin sekali bercerita pada mereka tentang kisah St. Nicholas yang murah hati dan kemudian hari dikenal sebagai Santa Claus atau Sinterklas.

Saya juga ingin bilang pada mereka bahwa Hari Ibu di negara kita bukanlah Mother's Day dimana kita merayakan motherhood. Tetapi bagaimana cara menerangkan pada mereka bahwa Hari Ibu adalah hari peringatan Kongres Perempuan pertama di Indonesia tahun 1928. Hari itu perempuan Indonesia berkumpul, memperjelas dukungan dan peran mereka untuk masa depan negaranya.

Saya bisa membayangkan hari itu ibu-ibu tidak bersenang-senang melupakan tugas domestiknya, tetapi menambah kesibukannya dengan membicarakan penolakan perkawinan di bawah umur, juga sekolah-sekolah dan beasiswa untuk anak perempuan. Mereka tidak mengeluh karena harus mengurus rumah, tapi beranggapan bahwa dirinya bisa melakukan lebih banyak hal untuk orang lain.

Tidak, barangkali tidak sekarang. Mungkin beberapa tahun lagi. Saat ini saya masih ingin membiarkan mereka menikmati perayaan dan mencoba membuat hari istimewa menjadi bermakna dengan cara mereka sendiri. Apakah dengan membuat surat untuk Sinterklas, atau menyatakan kasih sayangnya dalam kartu untuk Ibu.

Kelak kalau mereka sudah lebih mengerti, baru saya akan mengajak mereka memikirkan kembali pemaknaannya pada hari-hari istimewa. Baru pelan-pelan kita akan membentuk kembali sistem nilai dan kepercayaan yang paling mendekati benar, dan sesuai untuk mereka.

2 comments:

Leny Puspadewi said...

Betul, kadang-kadang kita tidak sabar untuk memberitahu sesuatu kepada mereka (anak-anak), tapi beberapa memang harus menunggu sampai mereka cukup 'dewasa' untuk mengerti dan menerimanya. Happy New Year and Happy long weekend...

Tia said...

Selamat Tahun Baru...