Wednesday, January 30, 2008

Tunas

Tanam-tanaman di apotik hidup kami mulai bertunas. Tunas yang kecil, hijau, indah sekali.
Mengamati tunas baru tumbuh seperti mengamati harapan (tumbuh).

Saturday, January 26, 2008

Membuat Pilihan Sulit

IPS tahun ini topiknya ekonomi. Wah, bukan bidang favorit saya. Acuan kurikulum mensyaratkan cakupan yang secelup-secelup tapi luas. Seperti misalnya, menjelaskan bedanya PT, Fa, CV, BUMN dan Koperasi.

Nah, kalau ada yang tahu caranya dan membuatnya menarik, bilang saya ya?

Dari beberapa hasil coba-coba, saya berpendapat bahwa, daripada asal celup-celup, lebih asyik kalau berenang sekalian di salah satu kolam, bukan semua kolam. Maka salah satu hal yang saya bahas di sub topik tentang produksi adalah tentang tenaga kerja. Supaya lebih mengena, saya memilih tentang tenaga kerja anak.

Empati mereka mudah timbul karena anak-anak kelas 5 sudah tertarik pada kehidupan lain di luar dunianya. Beberapa hari ini kami sudah jumpalitan melihat kerah-kerah baju, dari mana saja pakaian (dan benda-benda lain yang kami pakai) berasal. Kami membaca aneka cerita pekerja anak di seluruh dunia, dan mencari negara-negara tempat tinggal mereka dalam peta. Kami sudah lumayan menangkap konsep 'dengan modal sekecil-kecilnya mendapat untung sebesar-besarnya' atau apa saja yang membuat suatu kegiatan produksi terpengaruh.

Pagi ini, saya membagikan biografi singkat seorang anak bernama Iqbal Masih. Mendengar akhir ceritanya, anak-anak agak kaget. Tapi menurut Bram, keren.

Saya mengajak anak-anak berdiskusi tentang isinya, melihat apa yang terlintas di kepala mereka tentang hal ini. Kami menghitung-hitung bagaimana Iqbal bekerja 14 jam sehari, dibayar sekian sen sehari, dan bagaimana ia tak akan pernah bisa menutup besar hutangnya.
Kami bisa membayangkan uang sebesar 150 ribu rupiah yang baru bisa tertebus dengan kerja paksa berbulan-bulan, biasanya kami habiskan dalam dua jam untuk nonton di bioskop, membeli es krim, makan di restoran, dan bayar parkir. Oh iya, tidak bisa beli baju di mall kecuali sedang diskon besar.

Kami membahas latar belakang keluarga Iqbal ditengah protes anak-anak tentang mengapa ibunya tidak bekerja? Ayahnya kemana? Bagaimana dengan kakak tirinya?

Saya bertanya pada mereka, apakah menurutmu anak-anak seharusnya tidak boleh bekerja?

Lika : Seharusnya tidak apa-apa, asalkan ada batasan-batasannya seperti batas jam kerja.

Mini : Menurutku boleh Bu, asal anak itu mau sendiri dan bukan dipaksa atau terpaksa. Dan menurutku seharusnya mereka tetap bisa menjadi anak-anak.

Saras : Ya, barangkali perlu dibuat pekerjaan yang khusus untuk anak-anak.

Seperti apa, misalnya?

Saras : Seperti di toko kue. (Ia menyebut sebuah waralaba toko kue dan roti)

Bram : Iya, misalnya jadi kasir. Jangan di bagian oven.

Menarik sekali. Mengapa kasir, menurutmu Bram?

Bram : Ya, karena kasir seperti komputer. Tadinya aku tidak bisa juga pakai komputer, tapi setelah kupelajari lama-lama aku bisa.

Mengapa tidak boleh di bagian oven?

Bram : Yah, itu berbahaya. Meskipun sedang belajar, kalau salah bisa bahaya. Bisa terbakar! Anak-anak tidak seharusnya bekerja di tempat yang berbahaya.


Selagi anak-anak bekerja menuliskan unsur-unsur cerita dalam biografi singkat itu, saya memandangi panduan silabus saya. Mulai mencoreti bagian mana saya harus membuat pelajaran singkat tentang batasan pekerja anak, dan tempat bekerja yang berbahaya.

Oh iya, tidakkah menarik melihat mereka beranggapan bahwa mereka sudah bisa membuat pilihan (boleh bekerja asal tidak terpaksa dan dipaksa) sementara kita berpendapat bahwa mereka terlalu muda untuk mempunyai pilihan?

Bagian kekanakan dalam diskusi ini juga tetap ada ketika saya bertanya, apa yang akan kamu lakukan jika orangtuamu, seperti ibu iqbal, perlu pertolongan?

Mereka saling pandang. Seseorang berseru, "Akan kusuruh kakakku bekerja."

Hehe.

Friday, January 25, 2008

Adorable

Ada dua hal yang membuat saya menaruh hormat pada anak-anak (pada umumnya) di sekolah kami.

Satu, anak-anak bisa menghargai privacy orang lain. Jika ada hal-hal sensitif yang diminta agar tidak dibicarakan, atau ada teman yang meminta mereka tidak membicarakan suatu hal. Mereka tak akan mengucapkan sepatah katapun tentang itu.

Dua, anak-anak menyukai binatang. Hampir setiap hari ada ulat, cacing, kupu-kupu, capung, lebah, kadal, kucing, ditemukan di seluruh penjuru sekolah. Anak-anak akan mengamatinya dengan gembira, melaporkannya dengan penuh semangat pada kami (yang kadang-kadang kurang tertarik) dan sesekali meletakkannya dengan hati-hati dalam sebuah gelas agar bisa diamati baik-baik. Setelah itu dilepas atau dibawa pulang. Tak sekalipun saya melihat siapapun menyakiti hewan-hewan kecil itu. Tidak sekalipun tampaknya, terlintas dalam benak mereka, untuk memotong-motong, mengiris-ngiris, atau menjadikan hewan-hewan itu dendeng.

Ya, dua-duanya membuat saya segan pada mereka.

Thursday, January 24, 2008

Kutipan: Belajar Berorganisasi

Ya, memang pelajaran PMP sudah tak ada lagi. Sekarang namanya Kewarganegaraan. Topik bulan ini adalah Kebebasan Berorganisasi. Yeah, right. Saya sendiri bosan.

Mari berangkat dari pengalaman anak-anak. Kebetulan kelas 5 sudah berkali-kali (dan sedang) mengikuti "organisasi" kecil-kecilan seperti saat membuat buku tahunan, kampanye, atau mengurusi pertunjukan kelas.

Saya bertanya pada mereka, apa pengalamanmu dan apa yang kamu pelajari? Ini jawaban mereka (yang anonim).

"Saya belajar bahwa everybody needs everybody. Kita juga tidak selalu dapat menjadi sesuatu yang kita inginkan. Kita perlu mengalah untuk tujuan kita."

"Saya belajar bahwa berorganisasi itu kita harus kompak dalam apapun. Juga harus teliti."

Setelah bercerita tentang teman-teman yang mau bekerja dan mangkir bekerja, ada yang menulis, "Hal yang membuat saya senang adalah mereka masih mau berusaha untuk membuat acara sukses. Saya belajar bahwa kalau berorganisasi kita tidak bisa seenaknya saja. Jangan egois.".

"Saya belajar bahwa dalam berorganisasi tidak semua yang kita mau bisa dikabulkan. Kita harus berunding dan belum tentu hasil perundingannya bisa memuaskanmu."

"Sangat menyenangkan bekerja dengan Putu. Ia bertanggung jawab, jadinya tugas kami cepat selesai. Tapi karena ada anak yang tidak mau mengerjakan tugasnya, saya sedikit kesal. Saya jadi belajar bahwa kita harus bertanggung jawab dan selalu sigap."

"Saya mempelajari satu hal yaitu kau tidak akan hidup tanpa bantuan seorang teman."


Tumbuh dewasa di depan saya, mereka mulai mengatasi rasa kecewa, kehilangan, dan... apa artinya berbeda pendapat.

Wednesday, January 23, 2008

Batas

Pagi ini saya dan anak-anak mendiskusikan sebuah kelas pilihan yang mereka keluhkan terlalu ribut seperti 'shipwreck'.

"Gurunya sih baik, Bu. Baik banget malah. Jadinya nggak pernah marah. Kasihan juga aku jadinya.

"Tahu kan, Bu, dua anak kelas 4 itu tidak bisa berhenti bicara.Mana kalau bicara keras banget lagi. Masa aku yang menyuruh diam? Tidak bisa diam juga."

"Barangkali baik juga kalau ada asistennya, Bu. Jadi mungkin kelasnya bisa lebih terkontrol. Soalnya anaknya banyak. " Banyak disini maksudnya tujuh belas.

"Mau mendengarkan juga susah Bu, soalnya berisik sekali. Aku nggak bisa konsentrasi. Lagipula, karena waktunya habis untuk menegur anak-anak yang ribut, akhirnya ceritanya diulang-ulang terus."

"Some children take this class as their free time. You know, time when you can chat or just exchange letters with the other children."

Panjang dan lebar mereka menceritakan keadaan di kelas itu dan berbagi pendapat dan saran (iya, saran, mereka memberi saran harusnya bagaimana) tentang kelas itu. Mereka bercerita dengan manis tanpa menuduh siapapun dan membuat saya juga tidak bisa menyalahkan siapapun tetapi tetap memahami situasinya.

Satu hal yang saya pelajari dari obrolan pagi ini, anak-anak, berapapun usia mereka, perlu batas-batas yang jelas. Mereka perlu tahu dengan jelas do and dont's dalam ruang gerak mereka. Bukannya anak-anak senang dibebaskan? Bukannya mereka lebih sehat kalau kita berhenti bilang tidak?

Mereka tahu, dan sangat menikmati banyak hal. Belajar, mengeksplorasi, mendengarkan, dan semua itu sungguh menyibukkan. Batasan yang jelas memberi anak-anak rasa aman, bahwa setiap kali mereka lupa atau lengah, akan ada yang mengingatkan mereka untuk kembali. Dengan demikian mereka tidak harus selalu mengontrol dirinya sendiri. Tidakkah itu terlalu melelahkan? Selalu mengontrol diri agar jadi anak baik?

Batas-batas yang jelas ternyata memberi rasa aman. Seperti lega, begitu, bahwa "saya" tidak perlu terlalu sibuk mengontrol diri sendiri. Orang lain sudah mengambil tugas itu. Saya bisa sibuk dan menikmati eksplorasi saya. Saya tahu saya tidak akan ada dalam bahaya.

Setengah tahun ini, saya sendiri berusaha untuk membuat kelas yang jelas batasannya. Saya ulang berulang ulang tentang apa yang saya harapkan dari mereka. Berulang-ulang. Saya sengaja memberi mereka kesempatan juga untuk menentukan do and dont's-nya. Saya yang sudah siap tempur menghadapi ABG jadi pengangguran karena ternyata saya nyaris tak perlu marah pada mereka. Satu teguran kecil dan sim salabim, semua kembali normal.
Yang agak mengejutkan, kecenderungan anak-anak untuk saling menekan (bullying) teman berkurang. Ada apa? Apakah mereka tiba-tiba insyaf?

Ternyata, saya baru mengerti bahwa pada satu titik, anak-anak berusaha untuk menguasai situasi jika tak ada orang lain yang bisa diandalkan untuk itu. Usaha-usaha mereka untuk membuat situasi terkontrol kadang-kadang diterjemahkan dengan cara mengancam teman, mengucilkan seseorang, atau malah menyulut pertengkaran. Nampaknya, ketika mereka tahu bahwa situasi sudah terkontrol, jelas dan aman, anak-anak jadi lupa untuk berusaha mengontrol.
Dunia pun jadi lebih damai.

Tuesday, January 22, 2008

Survey

Sepuluh murid berusia sepuluh tahun menjawab pertanyaan ini; kamu ingin menjadi orang yang seperti apa?

Anak-anak menuliskan lima sampai sepuluh deskripsi untuk menggambarkan sosok ideal yang mereka inginkan.

9 dari 10 anak mengatakan ingin menjadi orang yang suka menolong orang lain.

5 dari 10 anak mengatakan ingin menjadi orang yang jujur (agaknya mereka menyadari betapa menantangnya kata sederhana ini, jujur) dan rendah hati.

4 dari 10 menganggap ibadah dan mematuhi perintah Tuhan adalah penting.

3 dari 10 anak ingin menjadi anak yang berani, bersahabat, punya banyak teman, ramah, sopan dan menurut pada orangtua.

2 dari 10 anak menganggap penting jika mereka dapat menjadi orang yang bertanggungjawab.

1 dari 10 anak menganggap hal-hal di bawah ini penting:
bijaksana, selalu berpikir positif, memiliki pekerjaan yang benar, tidak iri, mandiri, tidak berpamrih, tidak mudah puas, pandai, punya toleransi, dan adil.


Menarik!

Friday, January 04, 2008

I-Want-To-Do-It-Myself

Ini cerita pemanasan, sebelum saya kembali ke kelas yang perlu dihangatkan lagi setelah liburan super panjang di akhir tahun.

Saya lupa bercerita bahwa ditengah kesibukan kami dua bulan terakhir ini, anak-anak kelas 5 sedang sibuk pula mempersiapkan pertunjukan kelasnya di pentas seni tahunan sekolah. Mereka ingin menampilkan sesuatu dari High School Musical dan sudah berlatih dengan religius. Mereka juga ingin menyanyikan satu lagu daerah.

Ibu Guru Musik sudah membagi-bagikan tugas pada setiap anak, mulai dari mengurus koreografi, latihan vokal, kostum, dan penjadwalan. Heboh lah pendeknya. Anak-anak di kelas saya yang memang berjiwa panitia sejati, menerima semuanya dengan riang gembira.

Hari H jatuh tanggal 2 Maret kalau saya tidak salah, tapi suatu hari di bulan November mereka sudah bertanya pada saya, "Berapa ukuran panggungnya, Bu, aku mau mengatur barisannya."

Wow, easy.

Hari berikutnya. "Kita maunya mementaskan lagunya tidak berurutan. Satu opening dan satu closing. Mungkin nggak bu?"

Saya menjawab, "Hm, ibu harus tanya dulu."

Besoknya, "Sudah ditanya belum bu? Bisa nggak bu?"

Bagian kostum menimpali, "Aku harus mengubah rencana kostumnya kalau harus berurutan." Ngomong-ngomong, rencana perkostumannya untuk setiap lagu sudah dibuat dalam sebuah daftar, difotokopi dua belas copy utk setiap anak dan saya, serta ibu guru musik. Weeks ago.

Saya melihat memang, betapa giatnya mereka berlatih di ruang musik sebelah. Ditonton adik-adik kelasnya dari luar jendela. Saya melihat bagaimana Mini, Dara, dan Mita begitu akur merencanakan gerakan-gerakan ini dan itu setiap waktu istirahat tiba. Mita membuat catatan-catatan tentang posisi dan segala perubahannya di kertas. Ya, benar, ada sketsanya.

Waktu terima rapor tiba, beberapa ibu menyebutkan hal yang kurang lebih sama tentang usaha anak-anak ini "menyusun" penampilan mereka. Saya juga kaget, mereka ternyata mencari tahu dari berbagai sumber, termasuk diantaranya internet dan menonton film-film. Seserius itu? Pantas saja suatu kali saya ditanya siapa itu Ida Royani. Dari mana tahu Ida Royani? Well, entah bagaimana salah satu anak membawa CD Benyamin S untuk mencari lagu Ondel-Ondel yang mereka butuhkan.

Dua minggu sebelum kuartal berakhir, kami sedang berkumpul di karpet. Terjadilah percakapan ini.

Mini : Ibu, sudah tahu dari ibu guru kelas 4 bahwa ada yang mau mengajari kelas 4 menari untuk lagu HSM?

Saya : Tidak. Mengapa?

Dara : Iya, kita juga diajak. Bu Tia diberitahu tidak?

Saya : Belum sempat bertemu dan mengobrol, sih. Kalian mau ikut?

Mita : Hm, nggak ah. Kami buat sendiri saja semuanya.

Saya : Yang lain?

Yang lain : Iya, kita buat sendiri saja. Tidak bagus banget nggak apa-apa. Aku lebih bangga kalau kita membuatnya sendiri.

Saya : Ok.

Masalah selesai. Anak-anak masih sibuk menggotong-gotong calon kostum ke ruang musik dan kembali ke kelas. Merayu-rayu Bapak Guru Musik untuk menemani mereka berlatih menyanyi. Menghabiskan waktu istirahat untuk mencoba-coba gerakan. Dan bertengkar sendiri mengatur posisi dan waktu latihan.

Hehehe.