Wednesday, January 19, 2005

Perempuan


Sejak minggu pertama saya ada di Sekolah Ini, saya terkesan dengan pandangan jender yang diperlihatkan anak-anak itu. Bukan satu pandangan yang advance dan njelimet; sebaliknya justru sangat sederhana. Saya justru berharap pandangan sederhana itu akan terus tinggal sampai mereka tua. Saya lebih berharap lagi, dunia di tempat mereka tinggal nanti, sudah lebih akomodatif pada pandangan itu.

Siang itu, saya sedang mengintip mereka duduk di aula terbuka dalam rangka memperingati hari Kartini. Tidak ada lomba pakai kebaya or stuff like that. Mereka duduk setengah melingkar, mendengarkan salah seorang gurunya bercerita tentang siapa itu Kartini. Guru yang pandai bercerita ini berusaha keras menceritakan konteks sekolah seperti sekolah yang dialami anak-anak ini. They listen carefully. Mereka sepertinya tidak habis pikir bahwa pada suatu saat seseorang tidak boleh sekolah HANYA KARENA dia perempuan. Memang apa salahnya menjadi perempuan?

Dan ketika guru itu menutup ceritanya dengan kalimat yang kurang lebih seperti ini, " Jadi, perempuan itu bisa sama hebatnya dengan laki-laki, sama pintarnya, dan sama pemberaninya!"

Seorang anak kelas 1 SD, perempuan, angkat tangan dan menambahkan, "Tapi Bu, jangan lupa, perempuan lebih hebat dari laki-laki. Perempuan bisa melahirkan, Laki-laki tidak."

Saya nyengir di belakang barisan, berusaha menahan tawa tapi saya ingin menangis.

Pengalaman ke-dua adalah ketika saya ikut mereka menonton cuplikan film NOWHERE IN AFRICA. Diceritakan dalam cuplikan itu, Owuor sang koki menolak ajakan memshaabnya mengambil air. Katanya mengambil air itu tugas perempuan. Tugas saya memasak. Scene berikutnya memperlihatkan sekelompok perempuan yang antri mengambil air dan menertawakan Owuor yang akhirnya membantu.

Anak-anak keheranan. Guru mereka kemudian bertanya, menurutmu setelah menonton film tadi, apa perbedaan keadaan di Indonesia dan di Afrika? Setelah sekian jawaban standar tentang alam sekitar, ada yang menjawab begini :
Di Indonesia, laki-laki dan perempuan bisa mengerjakan apa saja. Tidak perlu dibagi-bagi ini tugas laki-laki atau perempuan. Laki-laki boleh mengambil air, dan perempuan boleh memasak.

Terakhir, di kelas saya menemukan bahwa anak-anak kesulitan membedakan peran ayah atau ibu. Buat mereka sama saja. Jawaban basi seperti ketika kita masih kecil (ayah ke kantor atau ke sawah, dan ibu memasak di rumah) jelas tidak pernah terlintas dalam kepala kecil mereka. Mereka sudah tahu bahwa ibu bisa menjadi kepala rumah tangga. Ibu-ibu mereka bervariasi antara tinggal di rumah atau bekerja full time. Yang mengantar atau menjemput sekolah bisa siapa saja, tidak melulu ibu-ibu. Kadang ada bapak-bapak juga ikut bergerombol dan mengobrol menunggu anak-anaknya keluar.

Anak-anak ini bermain apa saja. Girls could lead as well as boys. They play hard games seperti tonjok-tonjokan, dan bisa akur bermain peran. Those who take ballet lessons admit that they are boyish.

By the way, setelah saya pikir-pikir lagi. Kasihan juga mereka, mungkin kaget melihat dunia sebenarnya di sini. It is not easy being a woman, girls. I mean it.


No comments: