Wednesday, February 13, 2008

Gambang Kromong

Ada satu mata pelajaran yang paling sulit dicari bahannya. Namanya PLKJ atau Pendiikan Lingkungan dan Kesenian Jakarta. Apalagi kalau membahas tentang kesenian. Saya cari tamu yang bisa menari betawi, selalu bentrok dengan jadwal kerja mereka. Saya cari foto orang bermain tanjidor di internet, sungguh nggak mumpuni. Akhirnya, saya dapat pinjaman video Anak Naga Beranak Naga dari teman. Isinya tentang Gambang Kromong.

Meski film dokumenter ini agak sulit bagi anak umur sepuluh tahun, saya tetap mengajak mereka nonton hari ini. Saya bebaskan mereka menonton sambil berkomentar dan tidur-tiduran. Saya pause sesekali karena saya harus menyederhanakan penjelasan tentang sejarah peranakan Tionghoa di masa penjajahan Belanda. Tapi, anak-anak mau mendengarkan gambang kromong. Akhirnya, bacaan-bacaan mengenai ambang kepunahan tanjidor, dan gambang kromong jadi nyata di depan mata.

"Oh iya, bener ya bu, yang main udah tua-tua semua. Aku tidak mengira orangnya tinggal sesedikit itu. Aku kira masih banyak."

"Menurut ibu, Ibu Masnah yang di film tadi masih hidup tidak? Mau nggak dia ngajarin kita?"

Nona Hitung saya, Dhara, menyahut, "Film itu dibuat tahun 2005 dan umurnya sudah 80 waktu itu."

Selesai menonton anak-anak masih berkomentar tentang ingin belajar sesuatu tentang Betawi. Ingin belajar menari Bali. Ingin belajar main gamelan.

Pertanyaan Mini menyela lagu Cente Manis Berdiri, "Kalau ayahku pemain gambang kromong, aku bangga tidak ya?"


Susah, pertanyaannya tentang akar.
Tentang identitas
Saya tidak berani menjawab kecuali tersenyum. Dan menanggapi sambil bergumam, "Pertanyaanmu menarik."

1 comment:

Anonymous said...

woooohh masih ada PLKJ toh? kirain dah lumat ditelan kurikulum baru... hehehe....