Monday, November 21, 2005

Ke Pasar

Akhir minggu lalu saya menugaskan anak-anak untuk pergi ke pasar tradisional dan pasar swalayan. Saya minta mereka (tepatnya saya berpesan pada orang tua) untuk membeli sendiri satu atau dua barang, dan menceritakan pengalaman mereka. Karena anak-anak juga sedang belajar mengenal nilai uang, saya menyarankan agar anak-anak tidak disuruh membeli barang-barang dengan harga bombastis. Kalau bisa di bawah lima ribu rupiah.

Anak-anak menyerbu kelas saya pagi ini dengan penuh semangat bercerita bagaimana mereka berbelanja. Adinda bilang begini, "Bu ternyata di pasar itu setiap barang ada yang jaga."

Ini beberapa laporan mereka. Ya, tentu saja semua masih dalam kacamata anak-anak yang polos dan belum tercemar oleh paham-paham anti kapitalisme segala. Mereka hanya membandingkan dengan apa yang biasa mereka temui.


Saya pergi ke Pasar Santa. Saya membeli jeruk seharga Rp 5000. Saya menawar dari harga sebelumnya Rp 6000. Bibi penjual memperbolehkannya. Kemudian saya membeli beras dan telur. Harga telurnya Rp 5000 dan tapi harga berasnya saya tawar dengan harga Rp 4000 dan diperbolehkan penjualnya sehingga saya dikembalikan Rp 1000. Suasananya panas, becek, bau, tidak rapi barang-barangnya. Setiap penjual barangnya sama sehingga harus menawar. -Musa-


Suasana di pasar tradisional ramai, bau dan kotor. Sedangkan harga-harga barang-barangnya lebih murah dan bisa ditawar. Suasana di pasar swalayan bersih, rapi, dan teratur sedangkan harga-harganya lebih mahal dan tidak bisa ditawar. - Thalia-


Aku membeli kelapa parut setengah, harganya seribu lima ratus. Aku membayarnya sama dengan harganya jadi tidak ada kembalian. Orang-orang boleh menawar harga yang mereka mau. Ketika aku bertemu dengan si penjual kelapa parut aku bertanya: permisi mas... bolehkah saya membeli satu kelapa tua tapi diparut? Pedagangnya boleh dia langsung bekerja secepat mungkin. Setelah selesai memarut aku bertanya lagi: Mas, jadi harganya berapa? Ia menjawab harganya 1500. Setelah membayar aku melihat daftar belanjaanku. Setelah semua seudah dibeli aku pulang bersama embakku sambil jalan kaki. Suasana di pasar tradisional sangat ramai dan kotor dan juga bau.
Kalau di pasar tradisional boleh menawar harga barang. Terserah boleh harganya dinaikkan atau diturunkan pun boleh! - Adinda-


Di pasar swalayan saya membeli tomat. Harga tomatnya adalah Rp 8.062. Saya membayar Rp 10.000. Uang kembaliannya adalah Rp 1.950. Jika aku ingin membeli sebuah barang di pasar swalayan, saya akan masuk dan mencari di mana kelompok barang itu dijual. Saya membayarnya di kasir. Suasananya dingin, bersih, dan ramai.
Di pasar tradisional saya membeli buah mangga. Harga mangganya Rp 6.000 tetapi saya tawar menjadi Rp 5.000. Saya boleh menawar harga, waktu saya menawar harganya saya bilang seperti ini: "bu boleh tidak harga mangganya menjadi 5.000? Suasananya kotor, banyak sampahnya dan bau. Menurutku tidak ada yang menarik - Riri-

No comments: