Tuesday, November 21, 2006

Plesetan

Saya menemani Putri dan Medina menghabiskan snack pagi mereka. Melihat salah satu poster di kelas kami, Putri membuka percakapan

Putri : Bu, tips itu artinya kembalian ya?
Medina : Itu tip! Tips itu gimana caranya...
Putri: Oh, bukannya kembalian?
Saya : Maksudmu memberi uang tambahan pada satpam atau pelayan restoran?
Putri : Iya.
Saya: Medina benar, yang kamu maksud itu tip bukan tips.
Medina : Aku suka memberi tip bu, kecuali ada tulisan Dilarang Memberi Tip.
Putri: Kalau tip itu bukannya yang buat dengerin musik itu?
Medina : Itu tape... t-a-p-e. (Medina tertawa, saya tertawa belakangan soalnya baru ngerti).
Saya : Kamu kok senang main plesetan sih.
Putri : (Melihat-lihat ke lantai) Aku nggak kepleset kok, Bu.


-- ditambahkan kemudian --

Saya sering memperhatikan bahwa anak-anak senang sekali meminjam buku tentang teka-teki di perpustakaan. Saya ingat, ada satu buku teka-teki tentang dinosaurus yang begitu laris sampai lusuh sepertinya. Saya juga belajar, bahwa jika saya sedang tidak dalam mood yang baik untuk menanggapi serangkaian teka-teki, sebaiknya saya menghindar. Mereka tak bisa berhenti dari satu teka-teki ke teka-teki lain.

Ternyata, begitulah anak-anak usia sekolah (usia 6 - 12 tahun). Anak-anak ini mengalami perkembangan pesat dalam kemampuan berbahasa mereka. Kosakata mereka bertambah berkali-kali lipat, dan somehow, mereka jauh lebih pandai mengemukakan pendapat, perasaan, keraguan, bahkan pikiran-pikiran absurd mereka dalam kalimat yang baik.

Salah satu petunjuk bahwa kemampuan bahasa mereka berkembang adalah mereka mulai tertarik pada teka-teki, tertawa pada lelucon-lelucon, dan main plesetan. Saya tidak heran, jika kita bisa tertawa pada sebuah lelucon atau teka-teki, itu karena kita tahu ada sesuatu yang tidak biasa pada konteks yang kita kenali. Untuk memahami sebuah lelucon, kita harus punya satu pengetahuan dasar dan kemampuan menggeser frame berpikir (O' Mara, tahunnya saya tidak tahu).

Begitu juga dengan plesetan. Lihat saja bagaimana Putri bisa memainkan kata-kata yang mirip bunyinya tetapi berbeda konteks untuk membuat orang berpikir, dan kemudian tersenyum. Ahli perkembangan bahasa berpendapat ini adalah salah satu tanda bahwa anak-anak mulai mengembangkan kemampuan memahami sistem bahasa.

Riddles are dependent on phonological, morphological, lexical, or syntactic ambiguity. (Holger Hary, 2006)*

Jadi, sepertinya sederhana dan mengganggu, tetapi kesenangan anak-anak bermain kata menurut saya menakjubkan. Bayangkan saja, kita tertawa padahal di kepala mereka sedang berjalan satu proses yang kompleks dan mencengangkan.

2 comments:

Anonymous said...

lugu ya

Anonymous said...

"aku gak kepleset kok" kikikikikikik, lucu sekali :D