Thursday, April 12, 2007

Bola

Pelajaran olahraga selama saya sekolah bukanlah kenangan yang menyenangkan. Saya bukan jagoan, tidak gesit, dan takut bola. Saya selalu berdalih saya ini alergi bola. Saya adalah jenis anak yang akan dipilih paling akhir untuk masuk sebuah tim olahraga. Saya sering menimbulkan tatapan iba para guru olahraga tiap harus ambil nilai untuk ketrampilan-ketrampilan menggunakan bola. Saya sendiri sudah punya kepercayaan bahwa saya dan bola tidak cocok.

Maka ketika saya mengajar dan juga harus memfasilitasi anak-anak berolahraga, ibu saya memandang saya terheran-heran, "Kamu memang sekarang sudah bisa nangkep bola?'

Untungnya sudah lumayan. Mungkin karena sekarang saya berolahraga rutin (jadi sudah agak lancar membedakan kanan dan kiri) dan mungkin juga karena peran saya memfasilitasi mengharuskan saya percaya diri memegang dan memainkan bola dengan sederhana.


Sekolah kami baru membeli banyak bola basket. Melihat kakak-kakak kelas 3 dan 4 latihan basket, anak-anak kelas 2 juga ingin main basket. Tadi saya membawa dua bola basket dan membuat permainan-permainan untuk latihan dribble.

Permainan selalu berhenti saat bola jatuh ke tangan Dewa. He has no clue about dribbling. Lama kelamaan temannya mulai marah. Dewa makin panik. "Aku belum bisa. Aku tidak bisa."


Saya ingat pengalaman masa kecil saya dan bola. Saya tidak mau Dewa juga frustrasi dan terlanjur pecaya bahwa ia tak bisa. Saya melempar satu bola untuk mereka, lalu menggandeng Dewa keluar lapangan dengan bola yang lain.

Saya minta ia memegang tangan saya selagi saya memantul-mantulkan bola. Saya minta ia merasakan saya mendorong bola bukan memukul bola. Saya terus bicara dan memberi contoh bagaimana melakukan dribble sederhana. Dewa terus mencoba. Lima menit kemudian ia sudah bisa menjaga bola itu ada di tangannya, tidak lari ke mana - mana dan tidak berhenti melambung.

"Lihat, Dewa sudah bisa!" Fia memberitahu teman-temannya. Semua bertepuk tangan senang. Dewa bisa ikut lagi dalam permainan tanpa membuat teman-temannya sewot.

Saat kami mencoba memasukkan bola dalam keranjang, Dewa pun sempat berhasil memasukkan satu atau dua kali. Sepanjang permainan anak-anak senang dan sibuk bersorak-sorak.

Menjelang pulang sekolah, Dewa mendekat.

Dewa : Bu, bu beli bola basketnya di carefour ya?
Saya : Mungkin ya, Bu Tia juga kurang tahu.
Dewa : Kalau keranjangnya di mana? Mahal tidak bu? Sejuta ya bu?
Saya : Hehehe, sepertinya tidak semahal itu.
Dewa : Aku ingin punya. Aku mau latihan di rumah.


Sepertinya Dewa lebih mengingat 'keberhasilannya' mendribble bola dan memasukkan bola dalam keranjang, "AKU TADI SUDAH MENCETAK GOL!" daripada rasa paniknya saat tidak bisa menguasai bola di tangannya.

No comments: