Friday, August 15, 2008

Napak Tilas Ke Depan

Di bulan Agustus, "hawa" napak tilas sedang tinggi. Lihatlah di sekitar kita, semua menjadi melankolis mengingat rangkaian peristiwa 63 tahun lalu, atau bahkan lebih jauh lagi. Di koran, saya baru membaca napak tilas Anyer Panarukan.

Saya baru mengobrol dengan teman kecil-menjelang-besar, saya. Ia mengeluh bahwa sekarang sering merasa aneh alias asing dengan dirinya sendiri. Saya bilang padanya, memang begitu adanya saat kita akan berpindah jenjang. Rasanya serba aneh dan kikuk. Sudah, kata saya, terima saja, tidak perlu dipikirkan.

Teman saya menjawab, tapi aneh pun kadang rasanya menyenangkan.

Tawa saya tak terbendung, jadinya. Lalu saya jadi bicara terlalu absurd padanya. Benar, teman, merasa aneh kadang memang perlu. Perasaan anehlah yang membuat kita jadi mencari tahu sebenarnya apa sih kita ini.

Saya makin senyum-senyum karena teman saya bingung dan saya pun jadi napak tilas ke masa-masa aneh saya dulu. Masa-masa tanggung yang serba salah.
Lalu, kata-kata mencari identitas yang sungguh klasik itu jadi muncul lagi. Yes, it was a nonsense sylable words to me. Sekarang pun masih tetap nonsense untuk teman saya, apa lagi yang Bu Tia bicarakan tentang menjadi Mini yang seperti apa atau menjadi Mita yang seperti apa.

Maksudnya?

Sayang, ini adalah pencarian seumur hidup. Jadi tak usah khawatir kalau tidak tahu apa maksudnya.

Iya, ya, nanti kalian jadi orang yang seperti apa? Dhimas begitu yakin bahwa ia ingin jadi perancang mobil. Ketertarikannya pada gambar, rancangan, mobil, dan pemahaman ruangnya memang luar biasa baik. Ia mantap pada kata-katanya, mengingatkan saya bahwa pada usia yang sama saya pun sudah tahu saya hendak ke mana mau jadi apa dan mau bikin apa. Sebagian sudah saya jalani. Sebagian, saya belum tahu.

Hari ini Dhimas menunjukkan kesungguhan hatinya saat ikut lomba membangun gedung dengan sedotan. Bersama kelompoknya Dhimas mengubah 50 sedotan menjadi sebuah rangka gedung yang tak bisa jatuh. Hanya 2 dari 6 kelompok yang berhasil membuat bangunan tinggi. Hanya kelompok Dhimas yang berhasil membuat gedung yang tidak roboh-roboh meski sempat terjadi kerusuhan banjir di aula. Dhimas dan teman-temannya membuat pondasi "bangunan" dengan sedotan saling silang yang kuat, DAN ajaibnya lagi masih sempat membentuk sedotan paling atas menjadi atap.Dhimas loncat-loncat kegirangan melihat hasil karyanya. Jauh dalam hati saya tahu persis ia sedang berjalan ke sana, ke arah cita-citanya.

Sampai malam ini saya masih terkagum-kagum kalau ingat.

Itu maksudnya, teman, tentang kamu yang seperti apa kelak.

Semoga berhasil ya.

2 comments:

Anonymous said...

benar buTi. saya pun baru sadar, kalo sejak entah saya sudah memiliki keyakinan tentang kata "failed better" daripada "success". sejak entah...

Tia said...

big hug el....