Saturday, August 12, 2006

Keluarga

Ibu saya bekerja mengurus sebuah sekolah. Suatu kali ia bercerita pada saya. Seorang gurunya berbicara pada anak-anak bahwa ayah adalah orang yang bertanggungjawab atas keluarga dan harus mencari nafkah. Seorang muridnya mengacungkan jari dan menyanggah, "Di rumah ibu saya lah yang bekerja mencari uang. Ayah saya tinggal di rumah. " Sang guru tidak begitu berkenan dan bertanya, memangnya kenapa? Dengan tenang muridnya menjawab, "Sebab ayah saya sakit stroke sejak saya TK." Masih tak percaya, guru itu melakukan cek silang dengan si ibu.

Membicarakan keluarga dengan anak-anak saat ini tidaklah semudah guru saya berbicara tentang keluarga Budi yang bahagia saat saya masih SD. Berbicara tentang keluarga saat ini berarti bicara tentang keputusan ayah atau ibu untuk memiliki hanya satu orang anak, orang tua tunggal, nenek atau orang lain yang berperan sebagai orang tua, keluarga angkat, keluarga lain budaya, keluarga lain agama, dan masih banyak varian lain.

Kurikulum ilmu sosial untuk kelas 2 mencakup banyak materi tentang keluarga. Tema sederhana tapi riskan ini mesti saya bawa ke kelas. Saya harus peka pada beragam keadaan keluarga murid-murid saya. Membuat pohon keluarga belum tentu tugas yang menyenangkan bagi mereka dengan orang tua tunggal. Membicarakan hak dan kewajiban orang tua mesti saya selingi dengan hak dan kewajiban anggota keluarga lain.

Sekali waktu, salah seorang murid saya memandang saya sambil memegang lembar kerjanya, "Tapi saya tidak punya ayah, bu."

Sambil tersenyum saya menjawab, "Sama, bu tia juga tidak punya kakak." Saya memintanya bercerita lebih banyak tentang ibunya.

Keberagaman ini jadi ide yang menarik. Kemarin saya meminta anak-anak melakukan riset tentang jumlah anggota keluarga setiap anak di SD. Hasilnya kami buat grafik batang. Saya bertanya pada mereka, apa yang mereka lihat?

Sargie cepat menjawab, ternyata setiap keluarga jumlah anggotanya berbeda-beda.

Mengapa begitu? Mengapa ada keluarga yang anggotanya hanya dua orang?

Medina bilang, mungkin saja karena baru menikah dan belum punya anak.

Maira menambahkan, bisa juga karena ayah atau ibunya sudah meninggal.

Saya katakan, bisa jadi orang tua sudah berpisah dan anaknya hanya seorang.

Adakah jumlah anggota keluarga yang lebih baik dari yang lain?
Tidak ada. Yang penting semua saling sayang.

Bagi saya, keluarga adalah akar tempat saya berasal. Menyangkal keberadaan keluarga hanya karena perlu mengikuti norma umum tentang keluarga semestinya berisi ayah, ibu, dan anak-anak sama sekali tidak membantu. Itu bagian dari identitas mereka. Menyangkal identitas hanya memulai sebuah kesulitan panjang berputar.

Saya ingin anak-anak tahu tidak semua rumah seperti rumah mereka. Setiap rumah isinya berbeda. Tak ada yang salah dengan berbeda.

Apapun itu, rumah mereka harus tetap jadi rumah yang paling hangat tempat mereka pulang. Saya harap begitu.

No comments: