Tuesday, September 12, 2006

Anak-anak Menulis

Alexander The Great punya sepupu kecil yang berbakat menulis. Ia pernah mengirimi saya kumpulan tulisan si sepupu kecil untuk dibaca. Saya hanya mampu geleng-geleng kepala sambil bertanya, "Makannya buku apa ya?"

Selain senang menulis, Sepupu Kecil pasti senang membaca. Itu tak perlu ditanya. Yang juga saya kagumi, ia tidak takut meminta umpan balik. Tidak tanggung-tanggung, ia bisa menelepon Philip II, ayah Alexander The Great, untuk minta diperiksa isi tulisannya. Mengingat sepak terjang Philip II di surat kabar-surat kabar terkemuka negeri ini, Sepupu Kecil cukup pemberani. Saya tidak sepemberani Sepupu Kecil.

Ketika saya mendengar Sepupu Kecil minta tulisannya dibaca dan dikomentari beliau, saya nyengir. Apa kira-kira yang akan dikatakan Philip II sebagai masukan? Tulis menulis adalah dunia beliau. Sepupu Kecil umurnya belum genap 8 tahun kalau saya tidak salah. Apa yang akan dijadikan masukan agar Sepupu Kecil bisa memperbaiki tulisannya tanpa membuatnya takut salah dan berhenti menulis?


Kebetulan murid-murid di kelas saya kurang lebih sebaya dengan Sepupu Kecil. Jadi, saya cukup tahu seberapa jauh kemampuan dasar menulis anak-anak seusia ini. Umumnya mereka masuk kelas 2 dengan perasaan menulis itu membuat tanganku pegal. Mereka bisa berhenti menulis sewaktu-waktu dengan alasan tak terbantahkan, Aku Sudah Capek. Saya benar-benar harus menjadi cheerleader untuk menyemangati anak-anak agar mau menembus batas lima kalimat saat sedang menulis.

Sepanjang paruh tahun anak-anak masih akan berusaha menulis dengan ejaan yang benar, tidak menghilangkan huruf dalam kata, menggunakan huruf besar di awal kalimat, dan menggunakan titik di akhir kalimat.

Sebagai guru mereka saya seringkali perlu tarik ulur antara membiarkan mereka mengalirkan tulisan, sekaligus membiasakan mereka menulis dengan kaidah-kaidah kata dan kalimat sederhana seperti tanda titik dan huruf besar tadi.

Menulis yang mengalir itu penting. Ketika terlalu banyak harus dan jangan yang ditemui, aliran itu bisa mampet. Mereka berhenti menulis, maka mereka akan berhenti belajar.

Sementara itu menyunting tulisan adalah salah satu bagian dari belajar menulis. Ya, tidak?

Maka tips and tricknya adalah, menyunting tulisan dilakukan satu persatu.

Contohnya, anak-anak yang masih banyak salah mengeja hanya saya minta untuk membaca ulang tulisannya dan memperbaiki ejaan yang salah. Anak-anak yang sudah cukup lancar menulis tanpa salah mengeja, akan menyunting penggunaan huruf besar di awal kalimat dan tanda titik di akhir kalimat.

Anak-anak yang sudah tak perlu diingatkan menulis huruf besar dan titik yang paling dasar, bisa mulai menggunakan huruf besar di tempat-tempat lain, dan menambah tanda baca-tanda baca lain. Biasanya kesiapan ini akan terlihat dari tanda-tanda suka bertanya.
" Bu menulis INI pakai huruf besar tidak? "
" Bu menulis ITU pakai huruf besar tidak?"

Untuk mereka yang lebih percaya diri dan lebih lancar menulis, tidak terlalu banyak lupa dengan aturan-aturan di atas baru saya ajak untuk memperbaiki pilihan kata, susunan kalimat, atau susunan ide dalam satu tulisan. Saya suka mengambil contoh dari kalimat-kalimat yang dibuat anak-anak sendiri. Saya tunjukkan pada teman-teman mereka sambil memberitahu apa yang saya maksud bagus.

Sampai tahun ke tiga ini memang belum ada Abdurahman Faiz atau Sepupu Kecil di kelas saya. Saya juga heran pada mereka. Bagaimana caranya bisa menulis seperti mereka?

Sementara ketika tahun lalu anak-anak bisa bercerita cukup lugas dan runtut sebanyak satu halaman folio saja saya sudah senang. Setidaknya mereka tidak takut dan ragu kalau diminta menulis.

Bagaimanapun, menulis adalah masalah latihan.



No comments: