Sunday, September 11, 2005

Katakan

Anak-anak bertengkar setiap waktu, setiap hari.Mereka bertengkar untuk berbagai alasan, kecil dan besar. Lima menit kemudian berbaikan kembali. Tetap saja mereka sedang belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. Tetap saja mereka sedang belajar bagaimana mengungkapkan perasaan dan keinginannya dengan tepat, tidak destruktif. Lima menit pertengkaran itu tetap lima menit yang tidak mengenakkan, mungkin penuh rasa bersalah atau marah. Mungkin juga penuh air mata.

Saya berusaha tidak sering ikut campur dalam pertengkaran anak-anak, kecuali masalahnya melibatkan sesuatu yang berbahaya atau sesuatu yang sama sekali unacceptable. Anak-anak tetap datang pada saya, mengadu, atau membela diri. Saya tetap berkata pada mereka, coba selesaikan sendiri.

Coba katakan apa yang kamu rasakan.
Coba katakan apa yang kamu ingin ia lakukan.
Coba katakan apa yang kamu ingin ia tidak lakukan.

Anak-anak cepat belajar. Dari boneka tangan hingga mempraktekkannya sendiri ketika benar-benar bertengkar dengan teman, lugas selalu mereka katakan
"Aku tidak suka kamu mendorongku. Itu membuatku marah. Lain kali jangan mendorong lagi."

Beruntung anak-anak tidak pernah mendendam. Tangan mereka cepat terulur dengan maaf. Cepat memaafkan. Cepat bermain lagi sebelum bel berbunyi.

Sepertinya saya harus belajar dari mereka. Sebab saya masih sering diam seribu bahasa ketika marah dan menolak bicara pada siapapun. Sepertinya saya harus meniru mereka, mengatakan apa yang saya rasakan, apa yang saya ingin orang lain tidak lakukan, apa yang saya ingin orang lain lakukan.

Lebih susah jadi orang dewasa daripada anak-anak.

No comments: