Friday, October 21, 2005

Perkalian

Anak-anak kelas 2 sudah menanti-nanti saatnya belajar perkalian. Untuk mereka, perkalian adalah satu bagian matematika yang hanya dipelajari mereka yang sudah mahir dan sudah besar. This is a big milestone.

Tiga minggu terakhir ini anak-anak sudah melakukan banyak sekali permainan, acara tempel menempel dan menyelesaikan puluhan lembar kerja tentang perkalian. Berkat semua itu, mereka sudah memahami konsep dasar bahwa perkalian adalah penjumlahan berulang. Juga bahwa 5 x 4 dan 4 x 5 hasilnya sama saja. Mereka sudah tahu bahwa semua bilangan dikalikan 1 sama dengan bilangan itu sendiri. Semua bilangan jika dikalikan 0 sama dengan 0.

Sekarang sudah saatnya menghafalkan tabel perkalian. Menurut ingatan saya, tabel perkalian adalah momok menakutkan. Dulu saya belajar perkalian di kelas 3. Tidak pernah ada cukup waktu untuk mengerti konsep awal perkalian sebagai bekal. Satu-satunya jalan ya dihafalkan. Kalau tidak hafal, bisa-bisa tidak bisa mengerjakan apa-apa. Guru saya bisa memanggil siapa saja dan meminta anak yang dipanggil itu untuk melafalkan perkalian di depan kelas. Tidak ada kesempatan untuk salah kecuali mau malu!

Di kelas saya sekarang, menghafalkan perkalian adalah tantangan yang perlu ditaklukkan. Anak-anak sudah membuat daftar perkalian dalam kartu kecil sebagai alat bantu. Mereka bisa datang pada guru-guru di kelas atau guru matematikanya untuk membuktikan bahwa mereka sudah hafal dan mendapatkan stiker bintang. Dua stiker kalau kamu bisa melafalkannya dengan cepat. Jadi, bisa dibayangkan bahwa seminggu terakhir ini kelas saya mendengung seperti sekumpulan lebah. Saya bisa ditarik-tarik kapan saja untuk mendengarkan perkalian mereka.

Menarik sekali melihat mereka begitu bersemangat dan bisa menampilkan kemampuan mereka sesuai kecepatan yang mereka inginkan. Agung misalnya, belum berhasil melalui perkalian tiga, dan ia sama sekali tidak cemas. Sebaliknya Riri hari ini membuktikan bahwa ia sudah menguasai perkalian 1 sampai 10. Riri bangga sekali. Adinda langsung panas hati. Ia menemui saya sembilan kali untuk mendengarkan perkalian delapannya.Kami tertawa setiap kali Adinda lupa atau membuat kesalahan. Adinda masih komat-kamit berusaha menghafalkan meski saya sudah menyuruhnya istirahat.

Dhimas dan Dhiadri menggunakan cara lain. Mereka bermain – apa yang mereka sebut dengan – TENIS PERKALIAN. Dengan raket tenis bohongan mereka memukul bola bohongan dengan kalimat “3x8!” dan harus dijawab lawan dengan benar. Begitu seterusnya sampai mereka berkeringat.

Pada kenyataannya Dhiadri masih enggan menghafalkan, “I cannot memorize all of this!” keluhnya. Sepanjang pagi tadi Dhiadri sibuk mendatangi teman-temannya yang berusaha menghafalkan perkalian dengan menceritakan penemuan-penemuannya mengenai pola hasil perkalian. “Lihat ini, kalau perkalian sembilan, yang sebelah kiri ditambah satu, yang sebelah kanan dikurang satu. Very easy!”
“Kalau perkalian lima belakangnya pasti nol atau lima. Bergantian saja!”
Saya merasa egonya sebagai anak pintar dan tukang berpikir agak terganggu ketika mendapati dirinya bisa lupa apa yang sudah berusaha ia ingat. Apalagi dia tidak berhasil menemukan pola menarik untuk hasil perkalian tujuh.


Yah, ngomong-ngomong hari ini jadi menyenangkan gara-gara perkalian. Padahal tadinya saya anti dengan acara hafal menghafal. Anak-anak menunjukkan pada saya, menghafal bisa juga menyenangkan. Mau tidak mau (kadang) acara menghafal harus dilewati juga.

2 comments:

retno said...

apakah dengan permaian demikian malah tidak menyulitka anak dan anakpun dapat merasa capek.mungkin dapat dengan permainan yang lain seperti dengan garis bilangan

Tia said...

hehe... seingat saya semua senang-senang saja hari itu. Ini hanya salah satu permainan dari beberapa permainan untuk mengenal perkalian, jadi saya rasa tak ada salahnya; baik bermain bintang, menggunakan garis bilangan, bermain kartu, dan sebagainya.

just open our mind and be positive.