Monday, December 05, 2005

Berebut Kontrol

Hari Senin selalu menjadi hari paling sulit bagi kelas saya. Hari Senin adalah hari di mana anak-anak cranky, agitated, atau malah lemas karena kurang tidur atau terlalu gembira sepanjang akhir minggu. Saya juga kurang mengerti mengapa perubahan rutinitas selalu jadi masalah besar untuk anak-anak.

Seperti pagi ini, Mas “Moody” datang ke kelas dengan mulut terjungkir ke bawah alias cemberut. Ia dan Zaky bermain kejar-kejaran di dalam kelas, jadi saya tegur. Main kejar-kejaran di luar nak, bukan di kelas. Mas Moody langsung menangis di bangkunya sambil bilang, “I hate Zaky.”

I rolled my eyes. Saya sudah hafal. Ia tidak bisa salah dan tidak suka ditegur.

Melihat gejala-gejala seperti ini, saya sengaja mengajak anak-anak ke luar kelas pada lima belas menit pertama kelas dimulai. Saya ajak mereka bermain “Mr. Fox, what time is this?” dan kami lari kejar-kejaran lima belas menit. Sepertinya saya yang harus lebih banyak olahraga supaya kuat lari.

Anak-anak lain jadi lebih bersemangat dan memaklumi keinginan saya agar mereka semua penuh perhatian selama jam pelajaran. Mas Moody sepertinya masih ingin melakukan sesuatu sesuai kehendaknya, yang kebetulan berbeda dengan kehendak saya. Ia sibuk sendiri (dan mengajak orang lain untuk sibuk bersamanya) ketika saya dan teman-teman lain sedang membicarakan apa yang akan kami lakukan berikutnya.

Saya sengaja tidak menegur this wonderful boy. Saya justru meminta mereka yang tidak berulah untuk mulai bekerja lebih dulu. Mas Moody makin kesal. Ia berusaha dipilih untuk duduk dan mulai bekerja, saya menyisakannya di urutan terakhir.

Di meja, anak-anak lain sibuk dengan kertas dan spidol menggambar mereka. The Moody Boy sibuk mengajak ngobrol teman di dekatnya. Saya tetap tidak berkata apa-apa pada Mas Moody ini. Saya meminta Riri, untuk pindah ke meja lain yang kebetulan kosong. Sial bagi Mas Moody, ia tinggal sendirian di mejanya.

Mas Moody mulai menggeram-geram (ini betulan!). Ia sengaja berkata keras-keras, “I work superslow when I am alone.”

Agung yang sangat peka pada perasaan sahabat-sahabatnya bertanya pada saya, “He sits alone, Bu Tia.” Saya menghampiri Agung dan mengajaknya bicara tentang gambarnya. Agung mengalihkan perhatian pada pekerjaannya.

Saya melakukan hal yang sama pada anak-anak yang potensial diajak mengobrol oleh Mas Moody. Mungkin karena topik tugas mereka menarik, mereka hanya menjawab seadanya kalau Ma Moody mengajak ngobrol. Sebentar kemudian sudah kembali mengerjakan cerita bergambar mereka.

Mas Moody masih menggeram-geram dan mengeluh karena harus mengambil semua peralatan gambar sendirian. “I will work superslow and I will finish this until music class is over.” Ia berteriak dari meja.

Dari meja saya, saya jawab, “Take your time. You may finish it until it is time to go home.”

Mas Moody kehilangan kata-kata sepertinya. Selama ia tetap uring-uringan sepanjang hari, saya membiarkannya duduk sendiri. Ia tetap berpendapat bahwa ia bekerja superslow kalau sendirian. Saya tidak peduli.

Tahu tidak? Di akhir hari, Mas Moody inilah yang paling dulu menyelesaikan tugasnya dan tidak perlu melanjutkannya di rumah. Superslow, you said?



Sepanjang hari Mas Moody masih melalui banyak kejadian yang membuatnya jengkel. Termasuk ketika saya memperingatkannya karena berlaku sangat tidak sopan pada guru bahasa inggrisnya. Sepanjang hari itu pula saya harus pasang mata memperhatikan kelakuannya. Saya berusaha sesedikit mungkin menegur kesalahannya (kecuali pada saat ia tidak sopan tadi) dan balik mengingatkan atau memuji calon partner kriminalnya. Mas Moody tidak bisa menyalahkan saya.

Tapi saya capek perang dingin seperti itu.

No comments: