Sunday, December 11, 2005

Membaca dan Menonton

Minggu ini Jiffest mulai lagi. Saya sudah mendaftarkan diri untuk menonton 14 film dalam seminggu. Saya bersemangat, gembira, dan merasa sedang kembali ke sekolah. Ada film yang ingin saya tonton karena -- tentu saja -- berhubungan dengan pekerjaan saya. Judulnya Etre Et Avoir. Tentang single class school yang ada di Perancis.

Dengan gembira pula saya mewartakan kabar gembira ini pada rekan-rekan kerja. Sambutannya, nihil. Saya jadi agak kecewa. Saya kan ingin mengajak mereka berbagi dan belajar bersama-sama. Gratis lho, filmnya. Lagipula selama ini saya selalu menempatkan prasangka positif bahwa saya bekerja bersama teman-teman yang gigih, senang belajar, dan selalu berusaha mengerjakan yang terbaik. Saya masih berprasangka positif, tapi sepertinya item "senang belajar" itu perlu dicermati lagi.

Lama saya berpikir tentang buku-buku, film-film, teman-teman, dan murid-murid saya. Kemudian saya baru menyadari sesuatu. Saya lebih banyak membicarakan buku-buku "klasik" anak dan film-film bagus dengan MURID-MURID SAYA daripada teman-teman sesama guru.

Murid-murid saya tidak pernah segan membawa ke sekolah buku-buku bagus yang sedang mereka baca. Temanya aneka ragam, mulai dari dinosaurus, astronomi, Thomas si Kereta Api, Art Attack, Teka Teki, dan lain sebagainya. Mereka juga selalu bercerita tentang film-film yang mereka tonton.

Minggu lalu saya sedang membahas buku Roald Dahl dan Michael Ende dengan teman-teman di Kemang. Paginya, Adinda yang datang pada saya dan bercerita tentang buku Charlie and The Chocolate Factory. Beberapa teman yang menanggapi ikut bercerita tentang filmnya.

Jadilah pagi itu saya dan Adinda mengobrol tentang Roald Dahl. Saya katakan bahwa buku favorit saya adalah Mathilda. Adinda bilang dia belum membacanya. Saya bilang bahwa saya punya lima buku Roald Dahl dan saya akan meminjamkan satu padanya. Esoknya Adinda sibuk di pojokan kelas bersama buku Fantastic Mr. Fox milik saya sepanjang waktu istirahat dan pulang sekolah. Ia bahkan minta ijin membawanya pulang.

Saya juga ingat obrolan-obrolan saya yang lalu dengan anak-anak lain tentang film Super Size Me dan sikap mereka terhadap junk food. Ngomong-ngomong mereka tetap tidak anti junk food, sometimes they do eat junk food, tapi mereka juga tahu bahwa mereka tidak bisa memakan junk food berlebihan.

Saya ingat bagaimana saya diminta menjelaskan tentang Nazi dan Kamp Konsentrasi gara-gara Saras baru selesai membaca buku tentang Anne Frank. Atau ketika saya bilang bahwa saya sangat suku cerita Charlotte's Web, dan anak-anak menimpali tentang film Charlotte's Web yang mereka tonton. Saya maklum, bukunya masih terlalu sulit untuk anak seusia mereka.

Tapi LITTLE PRINCE?
Saya memasang wallpaper dengan gambar Baobabs Tree dari The Little Prince. Salah satu murid saya melihat telepon genggam saya dan berkomentar, "Hey, i know this... this is from The Little Prince."
"Yes, it is. It's a very good book. You have to read it someday."

Intinya, saya bersyukur mereka besar dalam lingkungan yang menjadikan membaca dan menonton seperti makan dan minum dalam hidup sehari-hari. Saya hanya perlu memancing mereka dalam pembicaran dan lebih demonstratif membawa film atau buku. Ini seperti menanam bibit-bibit toleransi dan open mindedness. Semoga kelak ada pohon besar dan kokoh yang tumbuh.




6 comments:

amel said...

Tia, elo yakin anak2 itu bakal ngerti isi The Little Prince? gue baca itu awal tahun ini, gue pikir "oh, ruginya gue melewatkan belasan tahun karir membaca gue tapi gue baru nemu buku sebagus ini sekarang."

tapi setelah gue pikir2 lagi, kalau gue baca buku itu 5 thn yg laluuuu aja, apakah gue ngerti isinya gitu loh.

atau mungkin, ini salah satu buku klasik, yg bisa kita baca di tiap tahap perkembangan, dan selalu bisa menarik sesuatu dari sana. sesuatu yg terus berubah mengikuti perkembangan kita.

aduh, apaan sih gue pagi ini. cuma agak kaget aja, pagi ini gue baru ganti "quote of the week" gue di blog yg kali ini gue ambil dari buku The Little Prince, dan setelah itu mesti jelasin ke beberapa temen gue apa arti quote itu, eh trus baca blog loe dan nemu bahasan semacam ;-)

Putri said...

ibu tia.. saya sedang iseng2 browsing dan menemukan blog ibu tia.. hehehehe..

anyway.. hmm.. bagaimana kalau liburan besok saya ikutan nonton jifest.. pengen coba2 nonton deh.. tapi yang gratisan yah bu.. hihihihi.. trus filmnya jangan yang susah yah bu.. huehuehue.. --> banyak maunya.. basically saya suka mencoba sesuatu yang baru kok bu.. plus saya sedang tidak ada kerjaan disini..

by the way, i learn a lot loh kemarin ini beberapa hari mengunjungi sekolah itu.. hopefully saya boleh sering2 kesana sama headmaster.. hehehe.. lumayan, nambah ilmu (walau tidak nambah duit.. hihihihi)

-K.C aka Putri-
another clue: anaknya ibu .... hahahahaha..

Putri said...

eh lupa nambahin.. saya suka baca Roald Dahl! Koleksi saya juga banyak! Walau seringnya minjem punya sepupu..

Tia said...

Amel : Sepertinya Little Prince memang bisa dinikmati sebagai dongeng buat anak-anak, dan kita yang sudah lebih tua bisa lanjut lebih dalam. Lagipula sekarang di toko buku udah banyak versi sederhana Little Prince sebagai 'introduction'. Gue juga nggak tau sih, anak gue itu udah baca atau belum. Tapi dia mengenali gambarnya.

KC: Hahaha... nice to have you in our classroom. Harusnya lebih sering supaya bisa lihat gimana hebohnya. Anak-anak behave banget waktu ada elo. Sial.

Tia said...

Ngomong-ngomong tentang Jiffest, satu hari saya berhasil merayu rekan kerja saya ikut menonton Etre Et Avoir. Lebih senangnya lagi karena kami menikmati film itu dan memutuskan untuk lebih banyak menonton film lagi bersama-sama! Yeee!

Nauval Yazid said...

ketebak banget kalo elo nonton "etre et avoir", karena begitu tau film ini diputer buat jiffest, pikiran pertama gue langsung bilang, "tia pasti nonton film ini!" :)

too bad i couldn't watch it as i retreated myself back to malang on the day, so i hope you enjoyed the film as many reviewers did, based on their reviews i have read.