Monday, May 08, 2006

Lokakarya Menulis

Saya sedang banyak membaca tentang metode mengajar menulis pada anak-anak TK dan SD. Umumnya serangkaian kegiatan belajar menulis itu disebut dengan Writing Workshop. Ide membuat Writing Workshop ini sangat menarik bagi saya, sayangnya perlu alokasi waktu yang cukup banyak. Saat ini agak sulit bagi saya untuk benar-benar mengaplikasikannya di kelas.

Pada dasarnya, dalam Writing Workshop anak-anak diajak untuk memulai kegiatan pra penulisan seperti brainstorming, membuat jaring tema, kerangka karangan, dan sebagainya. Anak-anak juga belajar bahwa menulis itu tidak sekali langsung jadi. Mereka dilatih untuk melakukan revisi, baik dengan membaca kembali maupun dengan mendengarkan masukan dari teman sebaya dan gurunya. Anak-anak akan menulis kembali dengan melakukan perbaikan yang diperlukan sebelum kemudian 'diterbitkan' (dipasang dalam papan pengumuman, dijadikan buku, dan lain-lain).

Kegiatan pra penulisan, menulis draft pertama, dan menulis draft kedua masih bisa kami lakukan. Kegiatan revisi selama ini terbatas pada saya dan si penulis bertemu berdua dan membicarakan isi tulisannya. Saya ingin mengadakan writers conference, di mana anak-anak akan bertemu dan membicarakan isi tulisannya. Tapi sulit sekali, sebab kecepatan anak-anak menulis tidak sama.

Hari ini, kebetulan kami punya waktu dan semangat yang cukup. Anak-anak sedang menggebu-gebu untuk bisa menuntaskan pekerjaan dengan baik. Kebetulan pula minggu lalu anak-anak sudah menyelesaikan kerangka karangannya. Hari ini kami bisa memulai di titik yang sama; semua menulis draft pertama.

Saya mulai dengan melakukan modelling writing. Dari kerangka karangan, saya buat menjadi satu karangan utuh. Anak-anak memperhatikan. Ini hanya perlu waktu lima menit. Sisa waktu 40 menit digunakan anak-anak untuk menulis. Kami semua menulis sebuah dongeng tentang batu ajaib yang bisa mengabulkan tiga permintaan. Tokoh, setting, alur, dan akhir cerita bebas. Zaky begitu bersemangat sampai saya tidak perlu menemaninya menulis hari ini. Saya bahkan tidak bisa menghentikannya menulis karena ia ngotot harus bisa menulis lebih dari satu halaman. Ia menulis tentang naga, istana, dan pasukan yang mau merebut batu ajaib.

Semua selesai menulis di waktu yang hampir bersamaan. Saat yang tepat untuk melakukan writers conference. Saya minta anak-anak bergantian membacakan draft tulisannya, sementara yang lain mendengarkan dan memberi pendapat setelah temannya selesai membaca.

Satu trick kecil, saya katakan, mereka harus memuji dulu tulisan temannya sebelum mengritik. Ini bukan lomba mencela hasil karya orang lain. Saya hanya jadi moderator saja.

Saya agak kaget juga karena anak-anak mendengarkan dengan penuh perhatian dan mengajukan komentar-komentar yang tepat. Hampir sama dengan apa yang ingin saya sampaikan pada si penulis.

Ceritamu bagus. Tapi aku tidak mengerti si aku dalam cerita itu siapa. Kamu tidak ceritakan sih.

Menurutku ceritanya lucu. Cuma menggantung di tengah-tengah. Sebaiknya kamu buat akhir ceritanya.

Menurutku ceritanya masih bisa dibuat lebih panjang supaya lebih seru.

Finally we are not talking about princess and palace. But i really want to know how the characters know each other. I think it is important.


Kegiatan ini berlangsung cukup lama, dan to my surprise, mereka tidak kehilangan perhatian sama sekali. Seandainya saya tahu dari dulu, mungkin saya akan lebih sering meluangkan waktu untuk melakukan writers conference ini.

Saya katakan pada mereka bahwa saya senang dengan hasil tulisan mereka. Saya punya ide untuk membuat kumpulan dongeng tentang batu ajaib karya mereka. Kami akan melengkapinya dengan ilustrasi, menjilidnya dan meletakkan buku itu di perpustakaan.

Anak-anak setuju untuk membawa pulang tulisan mereka dan memperbaikinya di rumah. Karena besok ada tugas lain, saya bilang revisi ini akan dimulai hari Rabu.

"Aku hari ini saja, Bu. Besok aku les sampai sore. Nanti tidak sempat."

Ya sudah, lusa saja Ri.

"Nanti aku keburu lupa bu. Perbaikannya sudah ada di kepalaku, nih."


Thanks to her, hari ini saya hampir tidak duduk menyiapkan tugas dadakan mereka.

No comments: