Wednesday, April 26, 2006

Jurnal

Saya mengajar penuh waktu hari ini, dari jam delapan pagi sampai siang. Padahal mulut saya masih belum bisa diajak kompromi untuk mengoceh panjang-panjang. Jadilah siang hari saya ganti haluan dan mengeluarkan jurnal.

Biasanya kalau saya minta anak-anak menulis jurnal, saya harus menyertakan satu topik untuk ditulis. Kalau tidak, anak-anak akan memanfaatkan waktu menulis jurnal untuk melamun dengan pensil di bibir seakan-akan berpikir keras.

Siang ini saya tidak punya topik untuk ditulis. Saya bilang, topiknya bebas. Kalian boleh menulis apa saja asal pensil kalian terus bergerak.

Boleh aku menulis tentang foto-foto kita tadi?
Boleh.

Boleh aku menulis tentang mobilku?
Boleh.

Boleh aku menulis tentang percobaan IPA yang kemarin?
Boleh.

Boleh aku menulis tentang Benua Amerika?
Sure.

Boleh menulis tentang magma?
... Magma? Ya... boleh saja (Dalam hati saya berpikir keras, darimana topik magma bisa muncul. Baru saya ingat kemarin anak-anak membaca dengan serius tentang jenis-jenis batuan Saya jadi ingat juga betapa kagumnya saya ketika hampir seisi kelas bisa menjelaskan bahwa batuan metamorfosis terbentuk karena panas dan tekanan).

Pensil-pensil bergerak sibuk.
Kalau tahu begini, saya tentu tidak perlu repot-repot memikirkan aneka topik untuk menulis jurnal.

Saya memperhatikan kalender. Sekarang sudah bulan April. Sudah hampir sepuluh bulan sejak mereka datang ke kelas saya. Sampai sekarang saya belum merasa cukup percaya diri untuk berkata kemampuan menulis anak-anak di kelas saya sudah meningkat. Anak-anak tentu tahu bagaimana saya sangat cerewet memperbaiki susunan kalimat dan tanda baca mereka. Mereka tentu hafal betul bahwa saya selalu berpendapat mereka harus membaca lebih banyak bacaan berbahasa Indonesia.

Tetapi hari ini ada yang berbeda. Mendengar bagaimana anak-anak spontan memilih apa yang ingin mereka tulis tanpa mengeluh, tanpa melamun, tanpa menunda-nunda, saya bisa merasakan selintas kesenangan dan semangat untuk menulis. Spontanitas itu memberi tanda bagi saya: anak-anak sudah menikmati menulis.

That IS a big progress for me. Tanpa saya sadari anak-anak berkembang. Itulah mengapa saya cinta bulan April dan Mei.

2 comments:

Anonymous said...

sepertinya buti juga harus lebih banyak membaca bacaan indonesia. tulisan terakhir, harusnya mei, bukan meil.
:p

Tia said...

hihihihi.... iya deh, diperbaiki. Makasih ya...