Saturday, April 29, 2006

Bisa!

Anak-anak di kelas saya terkenal paling suka main di luar. Mereka tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa berlari sekencang-kencangkan di halaman sekolah kami yang tidak begitu besar, meskipun mereka baru bisa keluar kelas 2 menit sebelum akhir waktu bermain tiba.

Anak-anak di kelas saya juga paling senang menciptakan permainan baru.

Ada saat-saat di mana mereka senang sekali membuat halaman kelompok bermain porak poranda karena sibuk membuat aneka bentuk halang rintang. Hari yang lain lagi, mereka meletakkan dua gawang futsal portable bertolak belakang dan menjadikannya net voli ala sekolah kami. Pernah anak-anak menemukan tongkat golf mainan terbuat dari plastik. Mereka membuat bola dari kertas dan selotip. Tadinya saya pikir untuk main hoki, tapi mereka bilang itu bola golf. Sejak itu mereka sibuk berlatih golf dan menghitung par birdienya.

Suatu kali saya sedang menunggui anak-anak dijemput sepulang sekolah. Beberapa anak kelas saya belum dijemput. Mereka mulai menciptakan permainan baru lagi. Kali ini adalah kontes melompat. Pertama, mereka menyusun bangku sekaligus kontainer Ikea bertumpuk-tumpuk. Tiga orang anak antri dan mencoba untuk melompat tanpa menjatuhkan tumpukan bangku kontainer itu. Satu bangku kontainer, bisa dilewati. Dua bangku kontainer, masih bisa dilewati. Tiga bangku kontainer, tetap bisa dilewati. Anak-anak senang. Empat bangku kontainer, sudah terlalu berbahaya. Tingginya sudah lebih tinggi dari anak-anak, sedangkan lintasan untuk berlari dan mendarat tidak cukup.

Tidak hilang akal sekarang mereka menyusun bangku kontainer itu secara horizontal. Satu bangku kontainer, tentu tidak sulit sama sekali. Dua bangku kontainer, hanya harus melompat lebih kuat. Tiga bangku kontainer, ternyata bisa dilewati. Empat bangku kontainer... Adinda mulai berteriak-teriak. Aku tidak bisa, bu. Tidak mungkin bisa. Ini panjang sekali.

Riri dan Dhiadri mulai mengambil ancang-ancang, melompat, dan mendarat dengan mulus.
Adinda mencoba juga sambil mengomel bahwa ia tidak bisa melewatinya. Ternyata benar. Adinda menggulingkan bangku kontainer yang terakhir. "Tuh, kan, aku tidak bisa."

Dengan tenang saya berkomentar,"Ya jelas saja kamu tidak bisa, sejak awal kamu sudah bilang kamu tidak akan bisa."

Panas mendengar komentar saya, Adinda membalikan badan dan mengambil ancang-ancang lagi. Ia berlari dan melompat... lalu berhasil mendarat tanpa menyentuh satu bangku kontainer pun.

Adinda melihat ke arah saya dan Bu Ayu dengan wajah pemenang medali emas olimpiade, dan bicara dengan kecepatan tinggi "tahunggakbutadinyaakularisambilmikirakunggakbisalaluwaktu

akulompatakupikirakuharusbisaharusbisaharusbisalaluakhirnya AKU BISA!!!"

Ini alasan lain mengapa anak-anak perlu bermain. Mungkin ini pula alasan mengapa anak-anak terus menerus menciptakan permainan baru selain mewarisi permainan-permainan terdahulu. Barangkali ini alasannya mengapa banyak permainan memiliki tingkat kesulitan bertahap. Saya rasa anak-anak, secara alamiah, terus melatih dirinya untuk berani menghadapi tantangan demi tantangan.

Mengapa mengeluh kalau anak-anak terus bermain?
Tidakkah terlihat bahwa mereka terus menerus melatih diri untuk siap menjadi orang dewasa yang tidak gampang menyerah?

2 comments:

Putri said...

Bu Tia,

It's so inspirational.. Pasti bisa kalau kita juga percaya kita bisa!! Hehe..

Salam buat anak-anak itu yah bu.. Pasti mereka tambah kritis dan cerewet deh..

cheers,
Putri

Tin said...

Anak" belajar utk problem solving n build self-concept jg. terutama jadi lebih kreatif, berani, belajar kerja sama n bertanggung jawab, ya bu? Play enables children to share, interact and involve in conversation. Children learn best thru play, don't ya think?