Tuesday, August 09, 2005

Nasionalisme Agustus

Adalah suatu hal yang paling tidak saya duga; mendengar lagu Indonesia Raya di radio. Saya mengalaminya pada suatu pagi. Lagu itu membuat sesuatu dalam perut saya bergerak-gerak dan naik ke alam sadar. Sulit menjelaskan apa yang saya maksud dengan "sesuatu" itu. Sepertinya sejenis rasa sayang dan rindu.

Kebetulan pula, pada hari yang sama kelas saya akan membahas tentang pernak pernik Indonesia seperti bendera, lambang, lagu kebangsaan, dan sebagainya. Minggu depan akan ada perayaan 17 Agustus. Tradisi di sekolah saya, itu adalah satu-satunya hari di mana kami mengadakan upacara bendera singkat.

Kelas saya memulai diskusi pagi dengan membahas upacara itu. Kami pura-pura melakukan upacara bendera. Di kelas musik, anak-anak latihan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Usai kelas musik, anak paling badung di kelas menghampiri saya, "Bu, Bu! Lagunya seru! Aku suka lagu tadi. Apalagi bagian yang harus dinyanyikan keras. Asyik lagunya. Aku suka." Saya sampai bengong mendengarnya.

Pada kesempatan lain hari itu saya bercerita sedikit tentang sejarah bendera Merah Putih dan terciptanya lagu Indonesia Raya. Saya ingin mereka tahu mengapa mereka diharap menunjukkan sikap tertentu pada bendera dan lagu kebangsaan kita. Saya mencoba bercerita dengan hati-hati, memilih kata-kata yang relevan untuk dunia mereka sekarang. Saya tidak menduga anak-anak begitu antusias dengan cerita tentang sejarah itu. Pertanyaan mereka merembet jauh sampai saya harus menceritakan Perang Dunia II, penjatuhan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, juga perjalanan Vasco Da Gama.

Kenapa kita dijajah, Bu? Dijajah itu apa? Merdeka itu apa? Bagaimana caranya supaya kita merdeka? Kalau sudah dijatuhi bom, harusnya kan hancur, ya Bu? Bagaimana caranya bisa bagus lagi seperti sekarang? Kalau yang laki-laki menjadi romusha, yang perempuan bagaimana? Siapa yang datang duluan bu, Portugis atau Inggris? Jepangnya kapan?

Tahu-tahu jarum jam sudah menunjukkan pukul 1 lewat. Saya kaget. Sudah waktunya pulang. Tapi anak-anak tidak mau pulang! Mereka ngotot saya harus melanjutkan cerita saya sampai tuntas tentang sejarah kemerdekaan Indonesia. Mereka tidak peduli ketika saya bilang, sejarah itu begitu panjangnya hingga kalian tidak akan tuntas mempelajarinya sampai SMP. Dhiadri memandang saya dan berkata, "Bu Tia, why don't you call our parents and tell them that we are going to stay here until night to hear your story."
Riri terus mengeluh bahwa ia ingin tahu dan masih penasaran.

Saya berjanji bahwa setiap diskusi pagi saya akan bercerita pada mereka tentang sejarah kemerdekaan sampai selesai. Anak-anak mengeluh panjang. Malas sekali sepertinya pulang. Hari itu saya merasa sangat mencintai mereka. Ada sebuah dorongan untuk menaruh harap pada mereka.

Kejadian sepanjang Senin itu membuat saya berpikir banyak sampai rumah. Saya diliputi satu kesadaran bahwa dalam pekerjaan ini saya tidak hanya mengajar. Ternyata suka atau tidak saya akan mentransfer pada mereka sebagian identitas, sentimen, perasaan, dan pikiran mengenai suatu hal. Jika saya kehilangan rasa bangga saya terhadap bangsa ini, saya juga tidak akan pernah bisa membuat mereka bangga sebagai orang Indonesia. Jika saya tidak berhasil membuat mereka bangga, mereka tidak akan punya kepedulian pada negaranya. Jika mereka tidak peduli, mereka akan pergi, tidak melakukan apa-apa untuk negara ini.

Yang paling menakutkan adalah... kok semua seperti harus bermula dari saya sendiri.

3 comments:

amel said...

[...]Aku suka lagu tadi. Apalagi bagian yang harus dinyanyikan keras. [...]

Hahaha, ini "ring a bell" di kepala gue banget. Tapi bagian mana ya Ti, yg harus dinyanyikan dgn keras?

Terakhir gue upacara bendera itu pas kita masih mahasiswa baru pas 17-an, upacara di depan rektorat. Tgl 17 Agustus 1998. 7 tahun yang lalu :-)

Tia said...

sebetulnya yang dimaksud anak itu bagian refrain.

btw, waktu kita upacara bendera yang terakhir kalinya - 17 Agustus 1998 - itu, sebagian besar anak di kelas gue belum lahir.

Berasa tua gak sih? hihihi....

Anonymous said...

Kejadian sepanjang Senin itu membuat saya berpikir banyak sampai rumah. Saya diliputi satu kesadaran bahwa dalam pekerjaan ini saya tidak hanya mengajar. Ternyata suka atau tidak saya akan mentransfer pada mereka sebagian identitas, sentimen, perasaan, dan pikiran mengenai suatu hal. Jika saya kehilangan rasa bangga saya terhadap bangsa ini, saya juga tidak akan pernah bisa membuat mereka bangga sebagai orang Indonesia. Jika saya tidak berhasil membuat mereka bangga, mereka tidak akan punya kepedulian pada negaranya. Jika mereka tidak peduli, mereka akan pergi, tidak melakukan apa-apa untuk negara ini.

"Akhirnya gw menemukan bahasa yang pas yang selama ini gw cari untuk memotivasi teman2 relawan gw.
Thanks Ti..."

Yang paling menakutkan adalah... kok semua seperti harus bermula dari saya sendiri.

"Setidaknya kamu juga akan punya kebanggaan jika hal ini berhasil.., walau aku yakin kamu sebenarnya tidak untuk mengejar kebanggaan itu :). Salut Bu Guru!"